Belajar Dari Bangau
Ketika kita
melihat kawanan angsa atau bangau yang terbang di langit, kita akan terpukau
dengan keindahan dari bentuk formasi terbangnya yang rapi. Dengan warna putih
bersihnya bangau-bangau ini menghiasi suasana langit yang cerah. Berdasarkan
penelitian ternyata formasi yang dibuat bangau ini bukanlah sekedar formasi
untuk menghibur mata manusia semata melainkan banyak tujuan yang terkandung di
dalamnya.
Pertama, sering
kita dapati bahwa bangau yang terbang ini membentuk huruf V besar dengan satu
ekor pemimpin rombongan berada di paling depan formasi. Ternyata formasi ini
memudahkan bangau yang ada di belakang untuk terbang karena sudah terbuka udara
di depannya. Coba kita perhatikan dalam-dalam bahwa ketika kita bekerja secara
bersama-sama maka kemungkinan besar kita mendapatkan bantuan dari teman kerja
kita lebih besar daripada kita bekerja sendiri dengan tujuan sendiri.
Kedua, masih
dengan bentuk formasi V burung bangau ini. Tentunya kita akan mengetahui bahwa
dari setiap ekor burung akan memiliki arah yang sama dalam setiap terbangnya.
Benar saja ketika ada satu saja burung yang tidak memiliki arah yang sama
dengan burung yang lain maka formasi V itu tidak akan terbuat dengan sempurna.
Menurut penelitian cara terbang semacam ini memberikan sekitar 70% waktu tempuh yang lebih singkat daripada
ditempuh sendirian. Formasi semacam ini
juga menghemat energi untuk melakukan terbang pada burung bangau. Pasti kalian
mengetahui bukan ketika anda bekerja secara bersama-sama dengan tim maka akan
terjadi banyak sekali keajaiban-keajaiban yang akan tercapai. Sesuatu yang
bahkan tidak bisa diperbuat jika diakukan sendirian sesuatu yang berat dan
mustahil. Ternyata setelah adanya tujuan yang sama satu sama dari setiap
anggota tim hal yang mustahil itu menjadi capaian ringan yang dilakukannya
secara bersama-sama. Bukan tidak mungkin cita-cita yang menjadi tujuan tim itu
akan tercapai lebih cepat.
Ketiga, jika
diamati formasi V itu terdapat satu ekor yang seolah-olah menjadi pemimpin dari
setiap rombongan itu. Apabila diamati lagi seekor burung yang berada pada
posisi paling terdepan itu jika merasa kelelahan akan terbang memutar untuk
mengisi bagian pada formasi yang ada di belakangnya dan seekor burung lain akan
menggantikan posisinya. Hal ini sudah jelas terdapat dalm kehidupan manusia
bahwa setiap rombongan manusia tentu memiliki seorang pemimpin yang menunjukkan
arah tujuan dan disepakati oleh semua anggota kelompoknya. Namun, adakalanya
pemimpin ini sudah tak memiliki kekuatan lagi untuk memimpin karena waktu dan
faktor kesehatan kemungkinan. Pergantian pemimpi haruslah ada agar tetap ad
yang menjadi pembimbing dalam kelompok itu memberikan pengarahan dalam visi
yang akan dicapai bersama itu. Pemimpin pengganti ini memiliki kemungkinan akan
lebih baik sehingga membuat kelompok itu akan bisa mengembangka gerakan dalam
upaya untuk mengejar visi mereka, pemimpin yang memiliki kemampuan sama dengan
sebelumnya yang minimal bisa membuat kelomok itu masih berada pada koridor
pemimpin yang sebelumny untuk memimpin dan akhirnya dipercaya kelompok. Atau
bahkan pemimipin yang lebih buruk dari pemimipin sebelumnya. Pemimpin yang
tidak memedulikan visi kelompoknya yang memiliki visi pribadi untuk
kesenangannya sendiri.
Beramal Secara Berkelompok
Banyak yang mengatakan
bahwa kerja secara berkelompok atau sering disebut kerja sama itu menyusahkan
dan melelahkan. Alasannya adalah tak bisa bekerjasama, tak bisa memahami sifat
masing-masing orang, jadi lebih lama jika suatu pekerjaan itu dikerjakan secara
bersama-sama. Coba bandingkan dengan analogi formasi burung bangau di atas,
apakah semua itu terjadi ?. Sungguh keliru jika mengatakan bekerja sama itu
merepotkan, melelahkan, dan memperlama. Bahkan dengan bekerja sama kita akan
mendapatkan suntikan-suntikan semangat dari teman-teman kita ketika kita jatuh
mendapatkan bantua ketika kita memerlukan bantuan untuk menghadapi suatu
masalah. Namun dalam bekerja sama ternyata ada aturan-aturan yang harus
dipenuhi agar bisa terjadi terpenuhi aspek kerja sama dan saling mendukung
untuk mencapai cita-cita kelompok dan bisa lebih besar lagi. Dalam melakukan
kerja samanya tidak boleh mementingkan keperluan kelompoknya saja namun juga
harus memperhatikan kelompok lain untuk mendapatkan dukungan eksternal. Harus
pintar untuk membangun rasa saling percaya antara anggota kelompok agar minimal
timbul rasa aman untuk mendapatkan rasa aman ketika melakukan tugasnya
masing-masing. Kerjasama yang dimaksud bukanlah kegiatan saling bantu membantu
dalam keburukan melainkan untuk mewujudkan kesejahteraan dimanapun itu berada.
Percuma jika suatu kelompok melakukan kerjasama hanya untuk memberi manfaat
bagi anggotanya namun menyakiti orang yang ada di luar kelompok itu.
Realita di
Indonesia seperti itu, banyak orang yang tidak bisa bekerja sama, egoisitas
kelompok tertentu, arogansi atau kecintaan terhadap kelompok yang terlalu
berlebihan membuatnya tidak mampu untuk bekerja sama dengan kelompok yang lain.
Gesekan antar kelompok suporteran sepak bola misalnya, yang tak jarang
berdarah-darah sampai hanya karena ngefans
dengan klub sepak bola tertentu berujung pada petaka menghasilkan tangis
pada keluarga. Bahkan seolah-olah bangga atas kekuatan kerjasama mereka yang
membuat kelompok lain ‘kalah’. Tentu bukan itu yang dimaksud tujuan kerjasama.
Mewujudkan Cita-Cita Bersama
Di dunia ini
pasti tidak ada yang mau untuk mengharapkan keburukan pada dirinya. Tentunya
setiap orang ingin mewujudkan kebaikan dan keuntungan minimal untuk dirinya
sendiri. Pada fitrohnya manusia juga akan bisa menjadikannya kekuatannya
masing-masing untuk mendapatkan kesejahteraannya itu. Sesuai dengan teori
Darwinisme yang mengatakan bahwa yang kuatlah yang akan menang dan
menyingkirkan yang kalah. Tentu hal ini tak masuk pada aspek kemanusiaan, yaitu
yang kuat membantu yang lemah bukan yang
mendominasi dan akhirnya menyingkirkan yang lemah. Tentu dalam meuwujudkan
cita-cita kelompok berarti harus memperhatikan satu aspek penting layaknya
dalam kehidupan sosial yaitu juga memperhatikan keberadaan kelompok lain. Antar
kelompok ini jika terjadi hubungan yang sinergis dan saling membantu bukan tidak
mungkin capaian yang lebih besar dan tentu dampak yang
dihasilkan juga akan lebih besar akan tercapai. Berarti yang pertama jelas
tentukan dulu cita-cita yang sinergis tanpa saling gesek antar kelompok.
Setelah tu wujudkan cita-cita tersebut dengan cara yang manis tanpa menimbulkan
gesekan. Setelah belajar dari bangau itu kita akan mengetahui bahwa tujuan yang
jelas dan cara yang benar akan mengantarkan kita pada tujuan yang seharusnya
ada.
“If you want go Fast
go Alone, but If you want go Long go tegether”
Larangan Berpecah Belah
Jika terdapat
tujuan-tujuan yang buruk maka akan menimbulkan perpecahan antar kelompok bahkan
dalam internal kelompok tersebut yang akhirnya sama sekali tak mendapatkan
tuuan tersebut. Sekarang bayangkan jika semuanya bergerak secara bersama-sama
untuk mendapatkan tujuan yang nyata serta mendapatkan manfaat dari apa yang
sudah dilakukannya itu tidak akan terjadi perpecahan. Namun tidak dibatasi di
sini bahwa kemungkinan perbedaan itu mustahil adanya. Bahkan perbedaan itu akan
melekat pada setiap individu masing-masing yang membuatnya menjadi unik berbeda
dengan yang lain. Seharusnya perbedaan itu bukan menjadi batu pengganjal untuk
mencapai tujuan yang sama namun menjadi pelengkap atas kekurangan yang sangat
dimungkinkan pada aspek-aspek tertentu dalam kelompok tertentu. Tidak menjadi
masalah jika perbedaan itu hanya sebatas pada hal-hal yang masalahnya cabang
yang tidak sampai mengubah hal pokoknya. Saling melengkapi akan mempersingkat
waktu proses untuk mendapatkan tujuan yang sudah diimpikan bersama.
"Talent wins games, but teamwork and intelligence win
championships." --Michael Jordan