Kamis, 30 Maret 2017

Belajar Dari Bangau

Belajar Dari Bangau
Ketika kita melihat kawanan angsa atau bangau yang terbang di langit, kita akan terpukau dengan keindahan dari bentuk formasi terbangnya yang rapi. Dengan warna putih bersihnya bangau-bangau ini menghiasi suasana langit yang cerah. Berdasarkan penelitian ternyata formasi yang dibuat bangau ini bukanlah sekedar formasi untuk menghibur mata manusia semata melainkan banyak tujuan yang terkandung di dalamnya. 
Pertama, sering kita dapati bahwa bangau yang terbang ini membentuk huruf V besar dengan satu ekor pemimpin rombongan berada di paling depan formasi. Ternyata formasi ini memudahkan bangau yang ada di belakang untuk terbang karena sudah terbuka udara di depannya. Coba kita perhatikan dalam-dalam bahwa ketika kita bekerja secara bersama-sama maka kemungkinan besar kita mendapatkan bantuan dari teman kerja kita lebih besar daripada kita bekerja sendiri dengan tujuan sendiri.
Kedua, masih dengan bentuk formasi V burung bangau ini. Tentunya kita akan mengetahui bahwa dari setiap ekor burung akan memiliki arah yang sama dalam setiap terbangnya. Benar saja ketika ada satu saja burung yang tidak memiliki arah yang sama dengan burung yang lain maka formasi V itu tidak akan terbuat dengan sempurna. Menurut penelitian cara terbang semacam ini memberikan sekitar  70% waktu tempuh yang lebih singkat daripada ditempuh sendirian. Formasi  semacam ini juga menghemat energi untuk melakukan terbang pada burung bangau. Pasti kalian mengetahui bukan ketika anda bekerja secara bersama-sama dengan tim maka akan terjadi banyak sekali keajaiban-keajaiban yang akan tercapai. Sesuatu yang bahkan tidak bisa diperbuat jika diakukan sendirian sesuatu yang berat dan mustahil. Ternyata setelah adanya tujuan yang sama satu sama dari setiap anggota tim hal yang mustahil itu menjadi capaian ringan yang dilakukannya secara bersama-sama. Bukan tidak mungkin cita-cita yang menjadi tujuan tim itu akan tercapai lebih cepat.
Ketiga, jika diamati formasi V itu terdapat satu ekor yang seolah-olah menjadi pemimpin dari setiap rombongan itu. Apabila diamati lagi seekor burung yang berada pada posisi paling terdepan itu jika merasa kelelahan akan terbang memutar untuk mengisi bagian pada formasi yang ada di belakangnya dan seekor burung lain akan menggantikan posisinya. Hal ini sudah jelas terdapat dalm kehidupan manusia bahwa setiap rombongan manusia tentu memiliki seorang pemimpin yang menunjukkan arah tujuan dan disepakati oleh semua anggota kelompoknya. Namun, adakalanya pemimpin ini sudah tak memiliki kekuatan lagi untuk memimpin karena waktu dan faktor kesehatan kemungkinan. Pergantian pemimpi haruslah ada agar tetap ad yang menjadi pembimbing dalam kelompok itu memberikan pengarahan dalam visi yang akan dicapai bersama itu. Pemimpin pengganti ini memiliki kemungkinan akan lebih baik sehingga membuat kelompok itu akan bisa mengembangka gerakan dalam upaya untuk mengejar visi mereka, pemimpin yang memiliki kemampuan sama dengan sebelumnya yang minimal bisa membuat kelomok itu masih berada pada koridor pemimpin yang sebelumny untuk memimpin dan akhirnya dipercaya kelompok. Atau bahkan pemimipin yang lebih buruk dari pemimipin sebelumnya. Pemimpin yang tidak memedulikan visi kelompoknya yang memiliki visi pribadi untuk kesenangannya sendiri.
Beramal Secara Berkelompok
Banyak yang mengatakan bahwa kerja secara berkelompok atau sering disebut kerja sama itu menyusahkan dan melelahkan. Alasannya adalah tak bisa bekerjasama, tak bisa memahami sifat masing-masing orang, jadi lebih lama jika suatu pekerjaan itu dikerjakan secara bersama-sama. Coba bandingkan dengan analogi formasi burung bangau di atas, apakah semua itu terjadi ?. Sungguh keliru jika mengatakan bekerja sama itu merepotkan, melelahkan, dan memperlama. Bahkan dengan bekerja sama kita akan mendapatkan suntikan-suntikan semangat dari teman-teman kita ketika kita jatuh mendapatkan bantua ketika kita memerlukan bantuan untuk menghadapi suatu masalah. Namun dalam bekerja sama ternyata ada aturan-aturan yang harus dipenuhi agar bisa terjadi terpenuhi aspek kerja sama dan saling mendukung untuk mencapai cita-cita kelompok dan bisa lebih besar lagi. Dalam melakukan kerja samanya tidak boleh mementingkan keperluan kelompoknya saja namun juga harus memperhatikan kelompok lain untuk mendapatkan dukungan eksternal. Harus pintar untuk membangun rasa saling percaya antara anggota kelompok agar minimal timbul rasa aman untuk mendapatkan rasa aman ketika melakukan tugasnya masing-masing. Kerjasama yang dimaksud bukanlah kegiatan saling bantu membantu dalam keburukan melainkan untuk mewujudkan kesejahteraan dimanapun itu berada. Percuma jika suatu kelompok melakukan kerjasama hanya untuk memberi manfaat bagi anggotanya namun menyakiti orang yang ada di luar kelompok itu.
Realita di Indonesia seperti itu, banyak orang yang tidak bisa bekerja sama, egoisitas kelompok tertentu, arogansi atau kecintaan terhadap kelompok yang terlalu berlebihan membuatnya tidak mampu untuk bekerja sama dengan kelompok yang lain. Gesekan antar kelompok suporteran sepak bola misalnya, yang tak jarang berdarah-darah sampai hanya karena ngefans dengan klub sepak bola tertentu berujung pada petaka menghasilkan tangis pada keluarga. Bahkan seolah-olah bangga atas kekuatan kerjasama mereka yang membuat kelompok lain ‘kalah’. Tentu bukan itu yang dimaksud tujuan kerjasama.
Mewujudkan Cita-Cita Bersama
Di dunia ini pasti tidak ada yang mau untuk mengharapkan keburukan pada dirinya. Tentunya setiap orang ingin mewujudkan kebaikan dan keuntungan minimal untuk dirinya sendiri. Pada fitrohnya manusia juga akan bisa menjadikannya kekuatannya masing-masing untuk mendapatkan kesejahteraannya itu. Sesuai dengan teori Darwinisme yang mengatakan bahwa yang kuatlah yang akan menang dan menyingkirkan yang kalah. Tentu hal ini tak masuk pada aspek kemanusiaan, yaitu yang kuat membantu yang lemah  bukan yang mendominasi dan akhirnya menyingkirkan yang lemah. Tentu dalam meuwujudkan cita-cita kelompok berarti harus memperhatikan satu aspek penting layaknya dalam kehidupan sosial yaitu juga memperhatikan keberadaan kelompok lain. Antar kelompok ini jika terjadi hubungan yang sinergis dan saling membantu bukan tidak mungkin capaian yang lebih besar dan tentu dampak yang dihasilkan juga akan lebih besar akan tercapai. Berarti yang pertama jelas tentukan dulu cita-cita yang sinergis tanpa saling gesek antar kelompok. Setelah tu wujudkan cita-cita tersebut dengan cara yang manis tanpa menimbulkan gesekan. Setelah belajar dari bangau itu kita akan mengetahui bahwa tujuan yang jelas dan cara yang benar akan mengantarkan kita pada tujuan yang seharusnya ada.
“If you want go Fast go Alone, but If you want go Long go tegether
Larangan Berpecah Belah
Jika terdapat tujuan-tujuan yang buruk maka akan menimbulkan perpecahan antar kelompok bahkan dalam internal kelompok tersebut yang akhirnya sama sekali tak mendapatkan tuuan tersebut. Sekarang bayangkan jika semuanya bergerak secara bersama-sama untuk mendapatkan tujuan yang nyata serta mendapatkan manfaat dari apa yang sudah dilakukannya itu tidak akan terjadi perpecahan. Namun tidak dibatasi di sini bahwa kemungkinan perbedaan itu mustahil adanya. Bahkan perbedaan itu akan melekat pada setiap individu masing-masing yang membuatnya menjadi unik berbeda dengan yang lain. Seharusnya perbedaan itu bukan menjadi batu pengganjal untuk mencapai tujuan yang sama namun menjadi pelengkap atas kekurangan yang sangat dimungkinkan pada aspek-aspek tertentu dalam kelompok tertentu. Tidak menjadi masalah jika perbedaan itu hanya sebatas pada hal-hal yang masalahnya cabang yang tidak sampai mengubah hal pokoknya. Saling melengkapi akan mempersingkat waktu proses untuk mendapatkan tujuan yang sudah diimpikan bersama.
"Talent wins games, but teamwork and intelligence win championships." --Michael Jordan