Kamis, 22 Desember 2016

[Resensi Buku 4] : SANG AL KEMIS (The Alchemist)

Pengarang : Paulo Coelho

Buku yang kali ini coba diresensikan adalah buku yang mungkin berbeda dengan buku-buku yag sebelumnya saya coba review. Pembelian buku ini kemarin tepat pada 15 Desember 2016 di Gramedia Bandung tepat setelalh UAS semester 5 ini berakhir. Alih-alih untuk memenuhi hasrat saya untuk mendapatkan hiburan yang saya coba manfaatkan agar lebih produktif. Hari pertama berlangsung pembacaan dengan cerita yang menarik lagi sarat dengan hikmah dalam buku tersebut, sampai akhir halaman 100-an lah dapet. Hari baca berikutnya berlangsung dan disambut dengan pengumuman Kinematika dan Dinamika eh, malah ada perasaan untuk mengikuti ujiannya dari sebelumnya semangat untuk berlibur eh malah ujian lagi, nasib, nasib... ya udahlah belajar lagi sip. kata imam Syafii "Barang siapa tidak sanggup untuk menanggung lelahnya belajar, maka akan menanggung pedihnya kebodohan." Yah dengan sebuah kalimat mutiara saya mulai membuka buku-buku catatan lagi. Sip deh muqodimahnya sudah cukup.

Mulai masuk isi buku ya siap-siap.

Cerita berawal dari seorang anak laki-laki bernama Santiago yang tak lain adalah seorang penggembala domba di salah satu di kota Andalusia. Yang unik dari buku ini daripada buku-buku yang lain adalah subjek yang ada tidak disebutkan dengan nama secara langsung namun hanya menyebutkan sebutan gelarnya saja. Sebagai contoh Santiago pada buku ini hanya disebutkan dari awal sampai akhir seagai seorang anak laki-laki. Atau mungkin ini adalah ciri khas dari penulis Paulo Coelha ?  Saya juga tidak tahu menahu tentang semua ini karena jujur saya baru pertama kali membaca buku karangan Paulo Coelho.

Santiago adalah seorang anak gembala yang memiliki kemampuan baca tulis, kemampuan yang jarang dimiliki atau tidak pernah malahan bagi seorang penggembala. Sebenarnya  hal ini bukanlah hal yang seharusnya terjadi. Pada awalnya orang tua Santiago menginginkannya untuk menjadi seorang Rahib di daerah tepat tinggalnya. Namun Santiago bersikeras untuk menjadi penggembala saja karena kesukaannya terhadap petualangan.

Pada suatu hari ketika sudah mulai menjalani pekerjaannya sebagai penggembala dia bermimpi menemukan harta karun di tempat yang jauh, suatu negeri yang memiliki piramida. Mimpi itu tidak terjadi satu kali namun terjadi sebanyak dua kali. Pada akhirnya dia memutuskan untuk menjadi penggembala dan melakukan petualangan ke luar daerahnya.

Dalam perjalanan itu sang anak laki-laki  menjumpai berbagai macam orang pada tempat yang berbeda yang tujuan hanya satu yaitu untuk menemukan harta karun yang sudah diimpi-impikannya. Antara lain si anak muda bertemu dengan perempuan, lelaki tua yang mengaku raja Bernama Salem, penjual kristal yang berada di wilayah yang tidak strategis lagi, dan orang Inggris yang bertujuan untuk berguru kepada orang pintar yang disebutnya sebagai Al Kemis.

Pengembaraan itu melahirkan sebuah ilmu pengetahuan baru bagi si anak laki-laki. Berbagai hikmah dari pengembaraan yagn datang dari berbagai sumber pula. Dari orang lain ataupun hasil kontemplasinya sendiri dari pengalaman kehidupannya.

Seperti contoh sebauh hikmah yang ia dapatkan dari bertemu dengan Laki-laki Tua, "Jika bersungguh-sungguh, pastilah seluruh alam semesta akan membantu." "Harus peka terhadap pertanda-pertanda". Dari pesan yang ia dapatkan dari bapak tua itu ia menjadi tahu akan kehidupan. Lebih peka terhadap pertanda-pertanda yang ia lewati selama perjalanan, dan bahkan dia sampai memahami cara untuk berkomunikasi dengan makhluk selain manusia, yang disebutnya sebagai bahasa dunia. Karena ia menganggap bahwa semua makhluk hidup di dunia ini mengerti apa yang dia katakan namun dengan bahasa yang berbeda. Itulah pengetahuan yang menjadu hikmah untuknya dan membuatnya memiliki kelebihan untuk berkomunikasi.

Sebuah waktu yang membuatnya tak bisa melupakan perjalanan itu adalah ketika dia sampai sebuah Oasis dan bertemu dengan perempuan yang membuat hatinya lansung berdegub kencang. Sebenarnya memang pertemuan itu tidak sengaja yang dimulai dari sebuah pertanyaan encari keberadaan dari sang Al Kemis. Dari sana dia mendapatkan sebuah pelajaran berharga pula "Cinta tidak akan menghalangi seseorang untuk menghalangi takdirnya".

Sampai pada akhirnya si anak lelaki dipertemukan dengan sang Alkemis untuk mendapatkan takdirnya sebagai peraih harta karun. Dari sang Alkemis itu tentu ia mengambil banyak sekali pelajaran yang membuat hidup dan pemikirannya yang lebih berkembang.

Sampai pada akhirnya di bertemu dengan sebuah suku Arab badui yang sedang berperang dan sempat dijadikan sebagai tawanan. (pada bagian ini jujur saya mulai tak paham dari yang diceritakan buku ini) Dari pertemuan itu si anak diminta untuk menjadi angin. Anak itupun menawarkan untuk memperoleh waktu persiapan selama tiga hari dan akhirnya dan diberi waktu seesuai dengan permintaan. Satu, dua hari berlalu tanpa hasil yang bermakna yang ia lalui dengan berkomunikasi dengan Alam sekitar (ngga paham pokoknya :D). Akhir kata ia berubah menjadi angin, dan mendapatkan hartu karun yang teletak di tempat saat awal dia memulai perjalanan.

Sip sudah ya, kalau mau lebih lengkapnya dan tentunya akan lebih seru silakan baca saja sendiri bukunya. Mungkin yang saya tuliskan ini sangat tidak lengkap dan pastinya bahasanya kalah jauh dengan buku aslinya. Untuk Indonesia kemajuan literasi bangsaku hehe.

Sip sekian

Minggu, 11 Desember 2016

[Resensi buku#3] : Sikap Manusia
Penulis : Dr. Syaifudin Azwar, M.A.
Buku yang sudah lama saya lama ini akhirnya bisa saya baca di tengah kegiatan saya sebagai mahasiswa teknik mesin. Buku psikologi yang menurut saya mulai menarik perhatian saya untuk dipelajari. Hubungan dengan manusia, perasaan manusia, dan rekayasan relasi manusia. Perhatian manusia tentang perasaan untuk saling berhubungan satu sama lain akan membuat manusia satu dengan yang lain.
Ternyata dalam hubungan manusia selama ini sudah ada teori yang membahas. Hal inilah yang membuat menariik dari ilmu psikologi yang selama ini selalu dipikirkan dan membuat orang memperkeruh pemikiran karena selalu memikirkan sesuatu yang sebenarnya sudah ada pola yang menghabiskan pikiran halayak umum di dunia ini.
Buku sikap manusia ini membahas teori-teori tentang sikap. Bagaimana sikap manusia itu terbentuk, definisi sikap manusia, sampai perubahan sikap manusia baik secara natural maupun rekayasa sesuai dengan kehendak.
Sedikit menyinggung tentang mengubah sikap manusia sesuai dengan keinginan kita, cukup menarik perhatian. Bagaimana tidak jika seseorang memiliki kemampuan untuk mengubah sesuai dengan keinginan maka secara langsung akan mengubah hidup dari seseorang yang menjadi objek perubahan itu. Hal ini menjadi pemabahasan penting bagi seseorang yang memiliki power di tengah kehidupan bermasyarakat. Ketika sosok itu bervisi baik dan memperbaiki kehidupan tentu kemampuan ini akan menjadi bekal yang sangat signifikan untuk mendapatkan pendukung sesuai dengan apa yang dibawanya. Masalah timbul ketika kemampuan ini dimiliki oleh orang yang memiliki visi jelas namun tujuan akhirnya hanya untuk mendapatkan kesejahteraan indivual.
Dalam buku ini ada satu bab yang membahas secara khusus tentang rekayasa sikap. Dengan judul “persuasi dan pengubahan sikap manusia”. Pada bab ini dibahas bagaimana cara untuk mendapatkan hal yang paling terbaik untuk mendapatkan hasil efektif mendapatkan perubahan sikap seperti yang diinginkan.
Pembahasan tentang strategi persuasi. Seperti yang dikutip dalam bab ini “dasar-dasar manipulasi itu diperoleh dari organisasi sikap, mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemebentukan sikap, terutama berkaitan dengan pembentukan stimulus untuk menghadirkan respon yang dikehendaki” (saifuddin azwar: 61)
Menurut teori yang dibahas dalam buku ini perubahan sikap manusia itu ditempuh dalam 3 tahap, kesediaan, identifikasi dan internalisasi. Berdasarkan tiga tahap itulah menurut teori, sikap akan terbentuk.

 Dibahas juga bagaiman cara untuk mengubah sikap seseorang. Pendekatan tradisional dengan istilah “who says what to whom and with what efect”. Kedua dibahas pendekatan teori kognitif dengan sebauh pertanyaan yang muncul yaitu ‘proses kognitif apa yang menentukan sehingga orang dapat dikenai persuai’. Pada perspektif ini memusatkan perhatiannya terhadap analisis respon kognitif.

Sabtu, 22 Oktober 2016

[Resensi Buku 2] : Filsafat Ilmu (Perspektif Barat dan Islam)



Resensi Buku
Judul buku      : Filsafat Ilmu (Perspektif Barat dan Islam)
Pengarang       : DR. Adian Husaini, et. al.
Tebal buku      : 292 (tidak termasuk halaman pendahuluan)
Penerbit           : Gema Insani
Buku yang disusun oleh pak Adian Husaini ini sejatinya kumpulan artikel-artikel yang dari beberapa tokoh pemikiran Islam yang menjadi rujukan para intelek-intelek muslim Indonesia. Pada buku yang satu ini secara khusus dibahas tentang asal muasal dari senuah Ilmu. Menjelaskan perjalanan ilmu hingga menjadi seperti sekarang ini.
Ilmu pengetahuan adalah suatu yang mutlak dan harus dimiliki orang untuk bisa mengrmbangkan kemampuannya dalam banyak aspek kehidupan  Dalam perspektif barat, barat sudah banyak membuat ilmu pengetahuan yang penting dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dalam pandangan Syed Muhammad Naquib Al-latas pengetahuan barat sudah merusak ilmu pengetahuan secara mendasar. Ilmu pengetahuan Barat dibuat berdasarkan tradisi dengan landasan filosofisnya yang merusak dasar penurunan ilmu pengetahuan yaitu dari wahyu tuhan. Pengetahuan Barat hanya didasarkan oleh rasionalitas pemikiran manusia dan sangat mengesampaikan aspek wahyu di dalamnya.
Sejatinya dalam Islam terdapat rasionalitas dalam berpikir. Namun, dalam menggunakan kapasitas dalam perspektif Islam tidak memisahkan antara rasional dan penurunan wahyu, itulah yang disebut filsafat Islam sekaligus yang membedakan dengan filsafat Barat.
Dalam ilmu filsafat terdapat secara khusus cabangnya yang mempelajari tentang ilmu pengetahuan yaitu epistemologi. Dalam Islam tentunya epistemogi juga dipelajari secara detail terkait dengan penurunan perdana sampai tataran pembahasan detailnya. Dalam perspektif Islam ilmu diprioritaskan untuk dikuasai. Hal ini terlihat ketika wahyu pertama-tama turun. Wahyu pertama ini menjelaskan tentang urgensi ilmu pengetahuan untuk memperbaiki kelayakan hidup manusia, melalui baca tulis. Dari surat Al-‘alaq sampai surat  Al-Qalam yang merupakan wahyu yang pertama-tama turun membahas tentang pentingnya pengetahuan.
Ilmu dalam Islam itu adalah sebuah himbauan, petunjuk, dan larangan oleh karena itu ilmu dalam Islam sudah sangat komprehensif. Menuntut ilmu agama dalam Islam adalah fardhu ‘ain yang harus dilakukan setiap individu. Tujuannya adalah untuk membentuk pribadi-pribadi yang semakin taat ketika bertambah ilmunya. Hal ini juga relevan dengan kenyataan yang terjadi sekarang yaitu ketika seseorang itu mempelajari ilmu lain selain ilmu agama, ilmu pengetahuan misalnya, itu akan menjauhkan dari Allah.  Hal itu berbanding terbalik dengan tujuan ilmu yang seharusnya.



Senin, 19 September 2016

[Resensi Buku] Kemi 1 (Cinta Kebebasan yang Tersesat)

Judul :
Kemi 1 (Cinta Kebebasan yang Tersesat)
Penulis :Adian Husaini
Penerbit :Gema Insani
Tahun Terbit: 2013
Cetakan :5
Kategori :Novel pemikiran kontemporer, Roman
Jumlah Halaman : 316


Siapa yang tidak tahu Adian Husaini seorang pejuang pemikiran Islam untuk mengantisipasi pemikiran menyimpang di Indonesia. banyak orang akan memiliki ketertarikan tersendiri ketika melihat namanya terpampang di buku manapun maka akan tertarik untuk membaca. Begitupun saya, saya tertarik untuk membaca buku Kemi 1 ini salah satunya karena buku ini ditulis oleh Pak Adian (salah satu motif membaca buku).
Buku ini adalah sebuah novel yang berisi kasus terkini tentang  pemikiran Islam yang sampai sekarang menjadi ancaman bagi  mendasar bagi akidah umat Islam. Buku ini bercerita tentang seorang santri pondok pesantren di Madiun, Ahmad Sukaimi atau biasa dipanggil Kemi, seperti judul buku ini. walaupun begitu ternyata buku ini lebih banyak menceritakan aktivitas dari teman Kemi di pesantren Rahmat.

Kemi adalah santri yang pandai dan cerdas, namun masih labil dan ingin mencoba-coba kehidupan yang baru. Karena dianggapnya kehidupan pesantren adalah kehidupan yang kuno dan perlu dikembangkan. Suatu saat kemi ditawari oleh Farsan -alumni pesantren sealmamater- untuk bergabung dengan dirinya pergi Jakarta untuk mengembangkan pergaulannya. Kemi menerima tawaran Farsa untuk pergi ke Jakarta dan akhirnya merekapun pergi ke Jakarta, meskipun Kyai Rois (Kyai Pimpinan Pesantren) masih belum merestui secara penuh keputusan Kemi untuk ikut dengan Farsan.

Di Jakarta Kemi dimasukkan Farsan ke suatu Universitas yang mengedapankan kebebasan berpikir dan memberi ruang yang luas untuk berpendapat. Kemi dikenalkan dengan berbagai kelompok orang-orang yang berbeda-beda mulai dari suku, ras, maupun agama bahkan ada yang tak beragama. Pertama-tama Kemi merasa jika apa yang dijumpainya itu adalah hal yang tabu dan tidak pernah dia temui ketika di pesantren. Pergaulan antara perempuan dan laki-laki yang dianggap sudah biasa. Tidak hanya itu, dipergaulan Kemi yang baru ini, perempuan dianggap memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Ejek-mengejek antara laki-laki dan perempuan sangat biasa diantara mereka.

Setelah sudah berjalan kehidupannya di Jakarta Kemi mulai ditawari untuk mengadakan pelatihan-pelatihan yang berkedok kebebasan, inklusifitas kelompok. Dalam kegiatan itu, Kemi dan tim mempropagandakan bahwa tidak kebenaran absolut di dunia ini dan membuat kebenaran itu bersifat relatif. Menyamakan agama satu dengan agama lain, menganggap bahwa agama itu semua benar terantung perspektif masing-masing, menganggap bahwa tuhan itu sama tinggal cara menyembah dan menyebutnya saja dan segala pemikiran mentimpang lainnya. Semua pemikirannya itu adalah hasil dari pemikir- pemik orientalis barat yang sangat mengedepankan akal di atas segala sesuatu. Namun ada yang aneh dengan mereka, setelah banyak sekali penimpangan pemikiran maupun perilaku mereka, mereka tetap mengaku Islam. Orang-orang yang sedang bergaul dengan Kemi ini adalah bisa disebut kelompok Islam liberal mengaku Islam tetapi tidak mau menjalankan hal substantial dari islam.

Karena masalah ini Kemi meresahkan Kyai Rois dan anggota pesantren Minhajul Abidin lainnya. Tindakan-tindakan Kemi ini sudah disiarkan ditelivisi-televisi swasta nasional dan Kemi bangga untuk mengakui bahwa dia berpemahaman liberal. Banyak kalangan yang menyerang pesantren karena ulahnya itu, dianggap pesantren mengajarkan pemahaman itu kepada santri-santrinya. Namun Kyai Rois bersikap bijaksana menghadapi pemberitaan miring tersebut, dia mengatahkan bahwa memang itu adalah pilihan dari Kemi untuk menapaki jala seperti itu.

Masalah Kemi semakin lama semakin larut dan mengakar sulit untuk dibasmi. Sampai suatu ketika Kyai Rois memutuskan untuk menyelesaikan masalah itu dengan mengutus Rahmat sebagai tangan kanannya. Sebelumnya Rahmat adalah santri yang sekarang sudah mengabdi untuk pesantren dikenal rupawan, dan sangat cerdas. Rahmat dibekali banyak hal oleh Kyai Rois tentang ilmu pemikiran kontemporer, dilatih pemikiran kritis selain yang diperolehnya pada pelajaran ilmu Mantiq yang diperolehnya di pesantren. Setelah siap dengan segala persiapan intensif yang dibekalkan kepada Rahmat akhirnya Rahmat berangkat ke Jakarta denga misi akan membawa Kemi ke pesantren. Kyai Rois juga berpesan kepada Rahmat sebanyak tiga poin ketika sudah berada di Jakarta. Pertama, Rahmat harus terus menggali ilmu untuk menambah wawasan untuk menghadapi pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Kedua, Rahmat harus tetap berkomunikasi dengan Kyai Rois atas segala hal yang terjadi pada kegiatan Rahmat selama di Jakarta. Ketiga Rahmat ditekankan untuk berdo’a kepada Allah karena bagaimanapun usaha manusia jika Allah belum ridho maka akan sia-sia.
Setelah sampai di Jakarta dan merasakan kehidupan sekitar Kemi, Rahmat menemukan hal-hal aneh. Kemi dan orang-orang yang mengunjungi rumah Kemi tidak pernah sholat meskipun mereka mengaku golongan penegak kebebasan Islam. Hal itu juga dirasakan oleh masyarakat sekitar kostan Kemi. Mereka lebih sering berdiskusi hingga larut malam tapi melupakan untuk sholat dan ibadah lainnya. Rahmat juga menemukan hal aneh ketika berada di kampus Damai Sentosa kampus dimana Kemi kuliah. Dari penampilan karyawannya yang sangat mencolok, administrasi yang sangat mudah namun terdapat paradoks di tempat itu yaitu fasilitas kuliah-kuliahnya sangat bagus untuk melakukan aktivitas perkuliahan. Tempat umum yang bersih, perpustakaan yang sangat lengkap memudahkan untuk mahasiwanya mengembangakan diri yang sangat berbanding terbalik dengan segala kemudahan administrasinya itu. Biasanya jika semakin ribet administrasinya maka fasilitas akan semakin baik. Rahmat juga mengetahui hubungi Kemi dengan beberapa perempuan yang bisa dibilang dekat, tetapi tidak pacaran bahkan menikah. Salah satu perempuan itu bernama Siti. Siti adalah gadis cantik anak Kyai yang memiliki pesantren di Banten namun berpakaiann serba ketat, jeans, kaos dengan segala lekuk tubuhnya kelihatan, jilbab juga sangat pendek hanya sempat menutupi rambut.

Rahmat kenal dengan Siti berbeda dengan perempuan yang lain. Setelah lama berhubungan dengan Siti Rahmat mengetahui bahwa Siti mengakui kalau kehidupannya yang sekarang ini adalah sebuah pengalihan dari kekangan keluarganya yang memaksakan setiap kegiatan Siti. Hubungan yang dibina Rahmat dan Siti itu lama kelamaan membuahkan simpati dari Rahmat kepada Siti sebenarnya keduanya mengakui jika saling menyukai, namun rasa itu tetap terus ditentang untuk tetap menjaga kebaikan antara keduanya, apalagi Rahmat yang tidak mungkin melakukan hal-hal bodoh seperti itu.
Setelah masuk hari pertama di kampus, Rahmat langsung mengikuti perkuliahan yang diisi oleh rektor secara langsung, Pak Malikan. Pak Malikan-rektor Universitas Damai Sentosa- adalah seorang pakar pemikiran kontemporer yang mengaku adanya kebebasan beragama dan mempercayai perbedaan akan tercipta jika terus ada toleransi. Beliau juga sering muncul di televisi mengisi kajian atau perdebatan tentang ilmu perbandingan lintas agama dan menganggap kebenaran itu milik semua agama. Pada kuliah pertama Rahmat itu dia berhasil membuat pak Malikan tidak berkutik untuk melanjutkan kuliahnya. Pendapat dan logika-logika yang diutarakan Pak Malikan juga dipatahkan oleh Rahmat karena semua itu sudah di pelajarinya dulu ketika dibina dipesantren baik melalui mempelajari buku-buku pemikiran kontemporer maupun hasil diskusi dengan Kyai Rois.

Di hari yang lain juga Rahmat berhasil membuat salah satu tokoh mereka kehilangan akal untuk menanggapi Kyai kondang Jawa Barat Kyai Dulpikir di sebuah kuliah umum di Universitas Damai sentosa. Hingga kyai akhirnya Kyai ini mengakui segala kesalahan berpikir dan memutuskan untuk bertaubat dan berterima kasih kepada Rahmat yang telah mengingatkannya sebelum akhirnya meninggal dunia pada saat itu juga.

Berita kematian Kyai dulpikir menjadi bahan besar media untuk menggembor-gemborkannya sampai ke pelosok negeri. Pemberitaan itu membuat Rahmat menjadi bahan omongan pada saat itu dan sempat menjadi incaran komplotan liberal untuk di eksekusi. Akhirnya Rahmat diselamatkan oleh kenalan Kyai Rois dengan dibawa ke sebuah kantor media massa untuk mendapatkan perlindungan yang lebih. Di kantor itu Rahmat dilindungi dan diberi fasilitas tempat tinggal, diperbolehkan juga untuk belajar menulis.

Di lain tempat ternyata terdapat beberapa kejadian yakni komplotan Kemi yang mengusung kebebasan dan segala pelatihan terkait, terbongkar yang sudah dihakimi. Namun sebelum hal itu Siti sudah menjadi korban dianiaya dengan diracun yang menyerang organ-organ pentingnya. Serta kemi yang dihajar habis-habisan sehingga otaknya mengalami gangguan. Di situ terbukti bahwa kelompok itu hanya berorientasi kepada uang dan kehidupan sendir tak seperti yang disebutkan di awal bahwa mereka memperjuangkan intelektual dan pemikiran.

Sekian resensi buku Kemi 1 dari saya, jika ada kurangnya mohon maaf, jika ingin membaca detailnya yuk langsung saja baca bukunya.

Kamis, 04 Agustus 2016


2. Ghazwul Fikr.  
25 Juli 2016\

 Akhir-akhir ini tidak sedikit serangan dilancarkan untuk membuat umat Islam lemah. Oleh karena itu umat islam sendiri harus mengetahui keadaan yang mengancam keberadaannya. Serangan dari berbagai pihak terutama pihak yang sangat memusuhi Islam, Barat. Baik dari pemikiran, fisik, maupun wilayah teritori umat Islam terus saja ditekan tanpa ampun untuk menyerah kepada mereka. Seakan tidak pernah puas untuk membuat Islam menyerah dan mengikuti semua tujuan kelompok mereka dan menjadikan umat Islam menjadi budak nafsunya. Seolah-olah lupa, mereka menghiraukan asas kemanusiaan yang mereka buat sendiri, HAM,  ketika berhadapan dengan umat Islam.

Berbagai cara dibuat untuk melemahkan kekuatan umat muslim di mata dunia ‘awam’ yang kini menjadi konsumen utama produk konspirasi mereka. dengan adanya budaya tak selektif ketika menerima suatu informasi, semakin mudah juga untuk meracuni pikiran mereka. Apalagi sekarang ini dengan dunia informasi yang sangat canggih pada segala pengetahuan entah itu benar atau tidak , bisa berada dalam genggaman. Keberhasilan mereka membuat kesimpang siuran informasi ini seharusnya membuat kita lebih teliti lagi akan apapun yang beredar di media.

Sebenarnya apa yang dilakukan apa yang dilakukan mereka itu bukan tidak beralasan, melainkan aktivitas yang membuat resah umat Islam itu dibuat karena banyak faktor yang melatar belakangi. Menurut sejarahnya ada beberapa faktor kenapa barat terus menekan umat Islam hingga nanti hari kiamat tiba. Faktor pertama yang menjadi alasan adalah hanya umat Islamlah yang memiliki kitab suci yang bertentangan dengan apa yang di bawa bangsa barat dengan trinitasnya. Seperti yang kita tahu bahwa umat Islam mempercayai bahwa hanya memiliki Tuhan yang satu yang tidak bisa beranak dan tidak diperanakan (Q.S. Al-Ikhlas). Kedua ketika umat memiliki perbedaan pandang maka akan timbul kontak fisik berupa peperangan. Untuk itu banyak yang akan menjadi korban jiwa berjatuhan selam semua itu terus berlanjut, dan lagi-lagi akan menyalahi aturan yang mereka buat sendiri (baca: HAM). Ketiga batas wilayah tempat tinggal akan menjadi sengketa dan saling diperebutkan sampai nanti kepuasan dari salah satu pihak. Hal itu juga akan menambah panjang daftar pelanggaran kemanusiaan. Dengan merenggut tempat tinggal apalagi yang akan mereka lakukan untuk merenggut nyawa dari kita umat Islam yang selalu didesak ini. Keempat kenapa bangsa barat terus saja membuat umat islam menjadi terdesak adalah karena sejarah pedih yang dimiliki mereka ketika umat Islam mencapai kejayaan walaupun saati itu umat Islam juga sangat memperhatikan keselamatan bagi mereka jika ada perjanjian damai sebelumnya. Tidak seperti sekarang yang walaupun sudah terjadi gencatan senjata tetapi dengan mudah mereka membatalkan dan melanjutkan aksi non-kemanusiaan itu.

Perbedaan pendapat yang terjadi di dunia ini tidak lepas dari sebuah dasar pemikiran – ideologis – yang menjadi motif manusia untuk beraktivitas. Hal ini tidak hanya dalam ranah materialis atau perbendaan saja namun lebih dari itu yaitu falsafah hidup.

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi falsafah ketuhanan dan mengakui ada kekuatan besar yang mengatur semua yang ada di alam ini. Dengan kepercayaan yang kuat bahwa hanya ada satu tuhan yang mengatur dunia ini dan akan hancur dan tidak seimbang jika semua ini diatur beberapa pengatur. Dengan dasar ini sudah jelas terjadi perbedaan yang mendasar dari agama lain yang mengatakan ada tiga yang satu. Dasar itulah yang menjadikan Islam selalu berbeda dengan yang lain dan memang menjadi pembeda dan pelengkap.

Perbedaan demi perbedaan akan terus bermunculan dan akan mencapai puncaknya jika sudah dalam pertemuan. Perang pemikiran – Ghazwul Fikr – telah menjadi pembicaraan hangat diantara umat manusia sekarang ini bukan hanya dari golongan beragama namun juga dari pihak yang mengklaim bahwa dirinya tak beragama juga memunculkan pemikiran-pemikirannya yang meracuni. Perbedaan dasar pemikiran ini lama-kelamaan menjadi sebuah pertarungan nyata dunia nyata maupun dunia maya.

Perkembangan pesat di media informasi membuat perang pemikiran ini masuk dan menusuk sedikit demi sedikit ideologis yang semula kuat menjadi semu jika tidak diimbangi dengan kajian yang komprehensif. Untuk itu perlu penguatan proses pemikiran baik dari sendiri maupun dari kelompok yang menjadi sebab semua itu bisa terjadi. Media yang sudah tidak netral lagi menjadi musuh besar umat Islam dalam pengaburan isu yang beredar. Juga terkait dengan sifat umat Islam sekarang apalagi umat Islam Indonesia yang sampai sekarang bisa dibilang sebagai masyarakat yang gampang terpengaruh dengan informasi melalui media.

Semua cara yang dilakukan musuh Islam itu hanya semata-mata karena ketakutan mereka akan umat Islam jika balik memiliki kejayaannya kembali. Karena sesungguhnya umat Islam pernah menjadi pusat peradaban dunia sekitar abad pertengahan. Kejayaan itulah yang menjadikan pihak lain untuk mencari tahu apakah penyebab dari perkembangan umat Islam yang pesat pada saat itu. Pihak tersebut melihat Islam sebagai peradaban yang sangat maju pada zamannya. Dengan mempelajari semua sistem yang ada dalam upaya untuk menerapkan kembali di bangsanya sendiri. Pergerakan ini bisa kita sebut dengan gerakan orientalisme yang sebenarnya tujuan utama mereka adalah untuk memenuhi kebutuhan orang-orang imperialis barat. Dalam buku “Orientalisme” karangan Edward Wadie Said, seseorang yang memiliki ironi kehidupan dengan latar belakang yang paradox. Edward mengemukakan kegagalan orientalsme barat yang menjadi tamparan keras bagi bangsa barat. Beliau menjelaskan bagaimana orientalisme ini dilakukan dan untuk apa sebenarnya orientalisme ini dilakukan. Penjelasan-penjelasan dari Edward ini membuat malu imperialism Barat atas apa yang mereka rencanakan selam ini untuk memnuhi kepentingannya.

Walaupun dengan dikekangnya teori orientlisme itu banyak mengundang simpati bahkan dari kaum muslimin untuk mempelajarinya lebih dalam. Akhirnya muncullah pengikut-pengikut dari orientalis Barat itu dari umat Islam. Mereka memiliki pemikiran yang hampir sama dengan guru-guru mereka dan bahkan akan menjadi pionir pergerakan ideologinya untuk menghancurkan Islam dari dalam. Kaum liberal atau lebih sering disebut dengan Islam Liberal memiliki paham yang membebaskan segala cara untuk mencapai sesuatu bahkan dalam ranah akidah. Menyalahi segala aturan-aturan yang sudah ada dan berasaskan kebebasan membabi buta.
Akhirnya apa yang harus kita ambil dan pelajari sebagi umat Islam adalah dengan mempelajari Al-Qur'an dengan cermat. Berdasarkan tuntunan ahlus sunnah. Kita tahu bahwa cukup ideologi Islam yang terbaik seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat Ali Imron ayat 110. Jadi tidak sepantasnya kita menyalahi pemikiran pemikiran ini.
Allahu'alam bish-shawwab.
#Kuliahperadaban,




Sabtu, 25 Juni 2016

Indonesia berkeadilan

1. KULIAH PERADABAN, 25 JUNI 2016
Materi : Sejarah Peradilan Islam Pra-kolonial di Indonesia
Pemateri : DR. Tiar Anwar Bachtiar
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki agama kepercayaan sebelum Islam masuk menjadi salah satu agama yang dominan. Kepercayaan awal bangsa Indonesia itu bisa kita sebut dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. Setelah para saudagar Arab masuk dan menjajakan dagangan mereka mulai untuk menyebarkan Islam agar mereka mudah untuk melakukan transaksi dengan masyarakat nusantara pada saat itu.
Pengaruh Islam terhadap peradilan sangat besar, mengingat banyak sekali metode peradilan Islam yang dipakai dalam menyelesaikan masalah antar penduduk. Oleh karena itu dalam sejarah peradilan di Indonesia dibagi menjadi tiga fase sebelum sebelum Belanda datang. Tahap peradilan Islam Indonesia sendiri adalah sebagai berikut :
1.      Periode Tahkim
Pada awal Islam masuk ke Indonesia yaitu sekitar abad ke-tujuh masih sangat sedikit kelompok-kelompok Islam yang tersebar di Indonesia. Para penganut Islampun belum mengetahui ajaran-ajaran Islam secara menyeluruh. Sehingga, ketika ada perdebatan antara dua pihak maka akan ‘ditunjuk’ satu orang untuk mengadili. Satu orang ini dianggap orang yang memiliki pengetahuan Islam yang lebih daripada yang lain. Oleh karena itu ketika satu orang yang ditunjuk ini memutuskan suatu hal tentang perselisihan antar keduanya harus ditaati. Cara inilah yang disebut dengan cara tahkim.
2.      Periode Ahl al-Halli wa al-Aqdi
Setelah kelompok-kelompok muslim mulai berkembang dan mampu untuk mengatur segala tata kehidupan sendiri, pelaksanaan kehakiman di dilakukan oleh ahl al-Halli wa al-Adi. Ahl al-Halli wa al-Adi, orang yang terpercaya yang mampu menjadi sesepuh di masyarakat dan memiliki pengetahuan yang luas, diangkat berdasarkan musyawarah. Selain menjadi penasehat raja mereka juga bertugas mengangkat hakim untuk mengadili segala sengketa yang ada di masyarakat.
3.      Periode Tauliyah
Ketika kerajaan Islam mulai terbentuk dan sistem pemerintahan Islam mulai dilaksanakan di kehidupan kerajaan. Raja atau Sultan sebagai wali al-Amri berkewanangan untuk menunjuk seorang untuk menjadi hakim di kerajaan yang memiliki syarat tertentu. Hakim bertugas sebagai penasehat dan pengadil di kerajaan.