Kamis, 22 Desember 2016

[Resensi Buku 4] : SANG AL KEMIS (The Alchemist)

Pengarang : Paulo Coelho

Buku yang kali ini coba diresensikan adalah buku yang mungkin berbeda dengan buku-buku yag sebelumnya saya coba review. Pembelian buku ini kemarin tepat pada 15 Desember 2016 di Gramedia Bandung tepat setelalh UAS semester 5 ini berakhir. Alih-alih untuk memenuhi hasrat saya untuk mendapatkan hiburan yang saya coba manfaatkan agar lebih produktif. Hari pertama berlangsung pembacaan dengan cerita yang menarik lagi sarat dengan hikmah dalam buku tersebut, sampai akhir halaman 100-an lah dapet. Hari baca berikutnya berlangsung dan disambut dengan pengumuman Kinematika dan Dinamika eh, malah ada perasaan untuk mengikuti ujiannya dari sebelumnya semangat untuk berlibur eh malah ujian lagi, nasib, nasib... ya udahlah belajar lagi sip. kata imam Syafii "Barang siapa tidak sanggup untuk menanggung lelahnya belajar, maka akan menanggung pedihnya kebodohan." Yah dengan sebuah kalimat mutiara saya mulai membuka buku-buku catatan lagi. Sip deh muqodimahnya sudah cukup.

Mulai masuk isi buku ya siap-siap.

Cerita berawal dari seorang anak laki-laki bernama Santiago yang tak lain adalah seorang penggembala domba di salah satu di kota Andalusia. Yang unik dari buku ini daripada buku-buku yang lain adalah subjek yang ada tidak disebutkan dengan nama secara langsung namun hanya menyebutkan sebutan gelarnya saja. Sebagai contoh Santiago pada buku ini hanya disebutkan dari awal sampai akhir seagai seorang anak laki-laki. Atau mungkin ini adalah ciri khas dari penulis Paulo Coelha ?  Saya juga tidak tahu menahu tentang semua ini karena jujur saya baru pertama kali membaca buku karangan Paulo Coelho.

Santiago adalah seorang anak gembala yang memiliki kemampuan baca tulis, kemampuan yang jarang dimiliki atau tidak pernah malahan bagi seorang penggembala. Sebenarnya  hal ini bukanlah hal yang seharusnya terjadi. Pada awalnya orang tua Santiago menginginkannya untuk menjadi seorang Rahib di daerah tepat tinggalnya. Namun Santiago bersikeras untuk menjadi penggembala saja karena kesukaannya terhadap petualangan.

Pada suatu hari ketika sudah mulai menjalani pekerjaannya sebagai penggembala dia bermimpi menemukan harta karun di tempat yang jauh, suatu negeri yang memiliki piramida. Mimpi itu tidak terjadi satu kali namun terjadi sebanyak dua kali. Pada akhirnya dia memutuskan untuk menjadi penggembala dan melakukan petualangan ke luar daerahnya.

Dalam perjalanan itu sang anak laki-laki  menjumpai berbagai macam orang pada tempat yang berbeda yang tujuan hanya satu yaitu untuk menemukan harta karun yang sudah diimpi-impikannya. Antara lain si anak muda bertemu dengan perempuan, lelaki tua yang mengaku raja Bernama Salem, penjual kristal yang berada di wilayah yang tidak strategis lagi, dan orang Inggris yang bertujuan untuk berguru kepada orang pintar yang disebutnya sebagai Al Kemis.

Pengembaraan itu melahirkan sebuah ilmu pengetahuan baru bagi si anak laki-laki. Berbagai hikmah dari pengembaraan yagn datang dari berbagai sumber pula. Dari orang lain ataupun hasil kontemplasinya sendiri dari pengalaman kehidupannya.

Seperti contoh sebauh hikmah yang ia dapatkan dari bertemu dengan Laki-laki Tua, "Jika bersungguh-sungguh, pastilah seluruh alam semesta akan membantu." "Harus peka terhadap pertanda-pertanda". Dari pesan yang ia dapatkan dari bapak tua itu ia menjadi tahu akan kehidupan. Lebih peka terhadap pertanda-pertanda yang ia lewati selama perjalanan, dan bahkan dia sampai memahami cara untuk berkomunikasi dengan makhluk selain manusia, yang disebutnya sebagai bahasa dunia. Karena ia menganggap bahwa semua makhluk hidup di dunia ini mengerti apa yang dia katakan namun dengan bahasa yang berbeda. Itulah pengetahuan yang menjadu hikmah untuknya dan membuatnya memiliki kelebihan untuk berkomunikasi.

Sebuah waktu yang membuatnya tak bisa melupakan perjalanan itu adalah ketika dia sampai sebuah Oasis dan bertemu dengan perempuan yang membuat hatinya lansung berdegub kencang. Sebenarnya memang pertemuan itu tidak sengaja yang dimulai dari sebuah pertanyaan encari keberadaan dari sang Al Kemis. Dari sana dia mendapatkan sebuah pelajaran berharga pula "Cinta tidak akan menghalangi seseorang untuk menghalangi takdirnya".

Sampai pada akhirnya si anak lelaki dipertemukan dengan sang Alkemis untuk mendapatkan takdirnya sebagai peraih harta karun. Dari sang Alkemis itu tentu ia mengambil banyak sekali pelajaran yang membuat hidup dan pemikirannya yang lebih berkembang.

Sampai pada akhirnya di bertemu dengan sebuah suku Arab badui yang sedang berperang dan sempat dijadikan sebagai tawanan. (pada bagian ini jujur saya mulai tak paham dari yang diceritakan buku ini) Dari pertemuan itu si anak diminta untuk menjadi angin. Anak itupun menawarkan untuk memperoleh waktu persiapan selama tiga hari dan akhirnya dan diberi waktu seesuai dengan permintaan. Satu, dua hari berlalu tanpa hasil yang bermakna yang ia lalui dengan berkomunikasi dengan Alam sekitar (ngga paham pokoknya :D). Akhir kata ia berubah menjadi angin, dan mendapatkan hartu karun yang teletak di tempat saat awal dia memulai perjalanan.

Sip sudah ya, kalau mau lebih lengkapnya dan tentunya akan lebih seru silakan baca saja sendiri bukunya. Mungkin yang saya tuliskan ini sangat tidak lengkap dan pastinya bahasanya kalah jauh dengan buku aslinya. Untuk Indonesia kemajuan literasi bangsaku hehe.

Sip sekian

Minggu, 11 Desember 2016

[Resensi buku#3] : Sikap Manusia
Penulis : Dr. Syaifudin Azwar, M.A.
Buku yang sudah lama saya lama ini akhirnya bisa saya baca di tengah kegiatan saya sebagai mahasiswa teknik mesin. Buku psikologi yang menurut saya mulai menarik perhatian saya untuk dipelajari. Hubungan dengan manusia, perasaan manusia, dan rekayasan relasi manusia. Perhatian manusia tentang perasaan untuk saling berhubungan satu sama lain akan membuat manusia satu dengan yang lain.
Ternyata dalam hubungan manusia selama ini sudah ada teori yang membahas. Hal inilah yang membuat menariik dari ilmu psikologi yang selama ini selalu dipikirkan dan membuat orang memperkeruh pemikiran karena selalu memikirkan sesuatu yang sebenarnya sudah ada pola yang menghabiskan pikiran halayak umum di dunia ini.
Buku sikap manusia ini membahas teori-teori tentang sikap. Bagaimana sikap manusia itu terbentuk, definisi sikap manusia, sampai perubahan sikap manusia baik secara natural maupun rekayasa sesuai dengan kehendak.
Sedikit menyinggung tentang mengubah sikap manusia sesuai dengan keinginan kita, cukup menarik perhatian. Bagaimana tidak jika seseorang memiliki kemampuan untuk mengubah sesuai dengan keinginan maka secara langsung akan mengubah hidup dari seseorang yang menjadi objek perubahan itu. Hal ini menjadi pemabahasan penting bagi seseorang yang memiliki power di tengah kehidupan bermasyarakat. Ketika sosok itu bervisi baik dan memperbaiki kehidupan tentu kemampuan ini akan menjadi bekal yang sangat signifikan untuk mendapatkan pendukung sesuai dengan apa yang dibawanya. Masalah timbul ketika kemampuan ini dimiliki oleh orang yang memiliki visi jelas namun tujuan akhirnya hanya untuk mendapatkan kesejahteraan indivual.
Dalam buku ini ada satu bab yang membahas secara khusus tentang rekayasa sikap. Dengan judul “persuasi dan pengubahan sikap manusia”. Pada bab ini dibahas bagaimana cara untuk mendapatkan hal yang paling terbaik untuk mendapatkan hasil efektif mendapatkan perubahan sikap seperti yang diinginkan.
Pembahasan tentang strategi persuasi. Seperti yang dikutip dalam bab ini “dasar-dasar manipulasi itu diperoleh dari organisasi sikap, mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemebentukan sikap, terutama berkaitan dengan pembentukan stimulus untuk menghadirkan respon yang dikehendaki” (saifuddin azwar: 61)
Menurut teori yang dibahas dalam buku ini perubahan sikap manusia itu ditempuh dalam 3 tahap, kesediaan, identifikasi dan internalisasi. Berdasarkan tiga tahap itulah menurut teori, sikap akan terbentuk.

 Dibahas juga bagaiman cara untuk mengubah sikap seseorang. Pendekatan tradisional dengan istilah “who says what to whom and with what efect”. Kedua dibahas pendekatan teori kognitif dengan sebauh pertanyaan yang muncul yaitu ‘proses kognitif apa yang menentukan sehingga orang dapat dikenai persuai’. Pada perspektif ini memusatkan perhatiannya terhadap analisis respon kognitif.