Jumat, 10 November 2017

Ringkasan Buku selagi masih muda

Oleh : Candra Olivinnanda
Karya : Dr. ‘Aidh Al Qarni


Buku yang ditulis oleh pengarang La Tahzan ini adalah buku terjemahan dari bahasa arab Fityatun Amanu Birobbihim, diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi dua juduil 1. Jadilan Pemuda Kahfi (Ekspresi Cinta Ulama Kepada Pemuda) 2. Selagi masih Muda (Bagaiman Menjadikan masa Muda Begitu Bermakna).
Buku berisi tentang isu-isu yang terjadi di masa muda yang dialami penulis dan masih sangat relevan dengan kondisi masa kini karena banyak sekali hal yang dijelaskan sehingga kita menjadi paham akan pentingnya masa muda untuk keberlangsungan umat.
Dalam buku ini juga diterangkan berbagai macam tipu muslihat yang digerakkan oleh musuh Islam kepada para pemuda sehingga pemuda nantinya mengalami kemandulan dalan produktifitas sehingga muslim menjadi tertnggal dan lemah. Adapan serangan-serangan yang dilakukan musuh islam itu adalah membiaskan aqidah di antara kaum pemuda, mencekoki dengan hal-hal Nafsu Dunia, dikeluarkannya majalah-majalan, music-musik melalaikan dan media porna lainnya, serta pemuda menjadi semakin lemah dalam berpikir sehingga mudah untuk ditumbangkan dalam hal ideologi.


Minggu, 16 April 2017

Apakah beasiswa sudah benar ?

Pastilah kamu mengetahui bahwa kehidupan di sekeliling kita masih terdapat kesenjangan sosial serta  kesenjangan ekonomi yang tinggi. Kesenjangan itu sudah mulai teratasi yang terbukti dari banyak teman-teman kita dari daerah terpencil memiliki motivasi sampai bisa menjalani pendidikan bahkan sampai tingkatan yang paling tinggi. Hal itu tak akan lepas dari adanya dukungan dari pihak-pihak yang memiliki rasa untuk membantu sesama. Meskipun hal itu sudah menjamur di kalangan masyarakat Indonesia, namun masih tetap saja ada ketidak samaan antara aspek penting dalam kehidupan itu (baca : ekonomi, sosial, dan pendidikan). Baik dari segi aspek kuantitas maupun kualitasnya masih saja ada yang kurang.
Coba kita soroti dulu aspek yang menjadi tulang punggung keseimbangan kehidupan, aspek ekonomi. Masih saja kita melihat anak jalanan yang mungkin jika bersekolah mungkin masih di bangku SD masih bermain di jalan untuk sekedar memenuhi kantong plastik dengan uang-uang receh hasilnya mengamen, kakek-kakek nenek-nenek yang sepertinya ‘sudah’ tak mampu untuk melanjutkan kehidupan dengan mengiba mengharap belas kasihan orang lain di pojok-pojok gang. Masih banyak permasalahan bangsa ini yang seharusnya diatasi. Aspek penting yang bisa menjadi alasan utama kenapa kita bisa memperbaiki hidup dengan lebih baik serta untuk mengatasi kerusakan aspek yang lain. Lalu apa solusinya ?
Salah satu soslusi terjitu adalah pendidikan, aspek yang saya sebut sebagai tulang punggung kemajuan peradaban dunia sekarang ini. Kemudahan-kemudahan hari ini bisa didapat karena perkembangan yang sangat pesat hari ini.
Pernah mendapat cerita dari seoarang sahabat yang begitu menginspirasi. Sahabat saya ini berasal dari sebuah desa terpencil di Provinsi Lampung. Bayangkan ketika sudah sampai di pinggir jalan angkutan umum kita perlu naik ojek dengan jalan berlumpur selama 3-4 jam untuk menuju ke kampungnya. Dia tinggal bersama dengan delapan orang adiknya, keadaan keluarganya pas-pasan. Keluarga sebanyak itu menjadi saya kira cukup untuk menjadi pembakar semangatnya untuk mengembangkan diri sejauh ini. Ketika dia ditanya “Kenapa kamu bersekolah jauh-jauh sampai di sini ?” (kebetulan sahabat ini sedang menempuh pendidikan S1 di Bandung). Jawabnya hanya satu kalimat sederhana namun mendalam “Hanya pendidikan yang bisa membuat keluarga saya selamat dari kemiskinan”. Sangatlah masuk akal, karena kita tahu dengan pendidikan taraf hidup seseorang itu akan meningkat seiring dengan seberapa pandai ia memanfaatkannya walaupun ada aspek yang tak terduga untuk memperoleh kesenangan di dunia.
Permasalahan yang selanjutnya muncul adalah bagaimana bisa menempuh pendidikan di Indonesia dengan segala biaya yang terasa mencekik nadi. Zaman modern ini memiliki berbagai solusi untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Bisa dengan bekerja, mencari sekolah gratis yang sudah marak dimana-mana, serta adanya biaya bantuan dari pihak lain untuk pendidikan kita atau yang sering kita sebut dengan beasiswa.
 Beasiswa adalah suatu bentuk dana yang digulirkan untuk membantu pelaksanaan program pendidikan dalam kalangan pelajar. Banyak sekali lembaga yang mentyediakan beasiswa modern ini karena kita tahu bahwa sangatlah penting untuk kemajuan sebuah bangsa. Tentunya lembaga-lembaga ini memiliki suatu visi yang digunakan sebagai motif untuk memberikan beasiswa. Diantaranya untuk merekrut Sumber Daya Manusia yang unggul, membantu orang yang kurang mampu, meningkatkan suatu komunitas dan masih banyak lagi motif kenapa suatu lembaga memberikan beasiswa kepada penerima beasiswa sesuai dengan keperluannya.
Contoh dari lembaga yang membrikan beasiswa biasanya bisa dari perorangan, kementerian, yayasan, lembaga zakat dan bahkan bank konvensional dan lain-lain.
Jika melihat dari sudut pandang syariat sebenarnya dalam mendapatkan suatu beasiswa perlu adanya pengajuan sebelumnya yang digunakan untuk syarat pengajuan. Dalam Islam meminta-minta itu dilarang sebgaimana hadits yang sudah ada berikut ini
Dari Abdullah Ibnu Umar radiyallahu’anhu Nabi shalallahu ‘alayhi wassalam  “ seorang yang terus menerus meminta-minta kepada orang lain itu akan datang pada hari kiamat dlam kondisi tidak ada secuuil daging pun di wajahnya.”(HR. Bukhori & muslim)
Jelas tertera pada hadits tersebut tidaklah boleh seorang muslim meminta-meminta kepada muslim yang lain.
Juga hadits beirkut :
“barang siaoa yang meminta bukan karena faktor kemiskinan itu seakan-akan memakan bara api” (HR. Ahmad)
Dalam hal ini perlu digaris bawahi yaitu tentang bagaimana seseorang memiliki kemampuan untuk mencukupi kebutuhannya. Dan harus digaris bawahi juga bahwa bekerja dengan orang lain (ijarah) itu berbeda dengan meminta (mas’alah). Meminta-menita yang disebut dalam hadits di atas adalah su’al yaitu meminta-minta sedekah dari orang lain.
Jadi ketika ada kontrak yang menyebutkan behwa oenerima beasiswa ini adalah seorang yang siap mengabdi pada lembaga yang sudah memberikan beasiswa maka tidak mengapa untuk dilakukan.
Lembaga yang memberikan beasiswa itu penting juga untuk dikaji karena pada lembaga itu akan berpengaruh bantuan yang diberikan. Karena dalam agama yang syumul ini tidak hanya dibahas tentang untuk apa harta yang dimiliki ini tetapi juga darimana datangnya harta itu, yang kita meyakini bahwa aka nada pertanggung jawaban atas apa yang dititipkan Alah kepada ini.
Pendapat pertama ulama setuju dan mengatakan jika harta itu seluruhnya haram dan tidak tercampur dengan yang halal maka hokum menggunakannya adalah haram. Pendapat kedua, ketika harta itu tidak seluruhnya haram masih ada harta yang halal di dalamnya maka di sini terdapat perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan bahwa harta halal itu menjadi haram ketika sudah tercampur dengan harta yang haram. Namun selanjutnya ada yang berpendapat tergantung dari kadarnya jika lebih banyak yang halal maka harta itu menjadi halal dan sebliknya.
Nah dengan demikian kita perlu selektif dalam memilih beasiswa yang sudah kita dapat atau ang sedang kita usahakan karena akan mempengaruhi pertanggung jawaban kita nanti di hadapan Allah azza wa jalla.
Allahu ‘alam bish shawwab


Referensi

Kamis, 30 Maret 2017

Belajar Dari Bangau

Belajar Dari Bangau
Ketika kita melihat kawanan angsa atau bangau yang terbang di langit, kita akan terpukau dengan keindahan dari bentuk formasi terbangnya yang rapi. Dengan warna putih bersihnya bangau-bangau ini menghiasi suasana langit yang cerah. Berdasarkan penelitian ternyata formasi yang dibuat bangau ini bukanlah sekedar formasi untuk menghibur mata manusia semata melainkan banyak tujuan yang terkandung di dalamnya. 
Pertama, sering kita dapati bahwa bangau yang terbang ini membentuk huruf V besar dengan satu ekor pemimpin rombongan berada di paling depan formasi. Ternyata formasi ini memudahkan bangau yang ada di belakang untuk terbang karena sudah terbuka udara di depannya. Coba kita perhatikan dalam-dalam bahwa ketika kita bekerja secara bersama-sama maka kemungkinan besar kita mendapatkan bantuan dari teman kerja kita lebih besar daripada kita bekerja sendiri dengan tujuan sendiri.
Kedua, masih dengan bentuk formasi V burung bangau ini. Tentunya kita akan mengetahui bahwa dari setiap ekor burung akan memiliki arah yang sama dalam setiap terbangnya. Benar saja ketika ada satu saja burung yang tidak memiliki arah yang sama dengan burung yang lain maka formasi V itu tidak akan terbuat dengan sempurna. Menurut penelitian cara terbang semacam ini memberikan sekitar  70% waktu tempuh yang lebih singkat daripada ditempuh sendirian. Formasi  semacam ini juga menghemat energi untuk melakukan terbang pada burung bangau. Pasti kalian mengetahui bukan ketika anda bekerja secara bersama-sama dengan tim maka akan terjadi banyak sekali keajaiban-keajaiban yang akan tercapai. Sesuatu yang bahkan tidak bisa diperbuat jika diakukan sendirian sesuatu yang berat dan mustahil. Ternyata setelah adanya tujuan yang sama satu sama dari setiap anggota tim hal yang mustahil itu menjadi capaian ringan yang dilakukannya secara bersama-sama. Bukan tidak mungkin cita-cita yang menjadi tujuan tim itu akan tercapai lebih cepat.
Ketiga, jika diamati formasi V itu terdapat satu ekor yang seolah-olah menjadi pemimpin dari setiap rombongan itu. Apabila diamati lagi seekor burung yang berada pada posisi paling terdepan itu jika merasa kelelahan akan terbang memutar untuk mengisi bagian pada formasi yang ada di belakangnya dan seekor burung lain akan menggantikan posisinya. Hal ini sudah jelas terdapat dalm kehidupan manusia bahwa setiap rombongan manusia tentu memiliki seorang pemimpin yang menunjukkan arah tujuan dan disepakati oleh semua anggota kelompoknya. Namun, adakalanya pemimpin ini sudah tak memiliki kekuatan lagi untuk memimpin karena waktu dan faktor kesehatan kemungkinan. Pergantian pemimpi haruslah ada agar tetap ad yang menjadi pembimbing dalam kelompok itu memberikan pengarahan dalam visi yang akan dicapai bersama itu. Pemimpin pengganti ini memiliki kemungkinan akan lebih baik sehingga membuat kelompok itu akan bisa mengembangka gerakan dalam upaya untuk mengejar visi mereka, pemimpin yang memiliki kemampuan sama dengan sebelumnya yang minimal bisa membuat kelomok itu masih berada pada koridor pemimpin yang sebelumny untuk memimpin dan akhirnya dipercaya kelompok. Atau bahkan pemimipin yang lebih buruk dari pemimipin sebelumnya. Pemimpin yang tidak memedulikan visi kelompoknya yang memiliki visi pribadi untuk kesenangannya sendiri.
Beramal Secara Berkelompok
Banyak yang mengatakan bahwa kerja secara berkelompok atau sering disebut kerja sama itu menyusahkan dan melelahkan. Alasannya adalah tak bisa bekerjasama, tak bisa memahami sifat masing-masing orang, jadi lebih lama jika suatu pekerjaan itu dikerjakan secara bersama-sama. Coba bandingkan dengan analogi formasi burung bangau di atas, apakah semua itu terjadi ?. Sungguh keliru jika mengatakan bekerja sama itu merepotkan, melelahkan, dan memperlama. Bahkan dengan bekerja sama kita akan mendapatkan suntikan-suntikan semangat dari teman-teman kita ketika kita jatuh mendapatkan bantua ketika kita memerlukan bantuan untuk menghadapi suatu masalah. Namun dalam bekerja sama ternyata ada aturan-aturan yang harus dipenuhi agar bisa terjadi terpenuhi aspek kerja sama dan saling mendukung untuk mencapai cita-cita kelompok dan bisa lebih besar lagi. Dalam melakukan kerja samanya tidak boleh mementingkan keperluan kelompoknya saja namun juga harus memperhatikan kelompok lain untuk mendapatkan dukungan eksternal. Harus pintar untuk membangun rasa saling percaya antara anggota kelompok agar minimal timbul rasa aman untuk mendapatkan rasa aman ketika melakukan tugasnya masing-masing. Kerjasama yang dimaksud bukanlah kegiatan saling bantu membantu dalam keburukan melainkan untuk mewujudkan kesejahteraan dimanapun itu berada. Percuma jika suatu kelompok melakukan kerjasama hanya untuk memberi manfaat bagi anggotanya namun menyakiti orang yang ada di luar kelompok itu.
Realita di Indonesia seperti itu, banyak orang yang tidak bisa bekerja sama, egoisitas kelompok tertentu, arogansi atau kecintaan terhadap kelompok yang terlalu berlebihan membuatnya tidak mampu untuk bekerja sama dengan kelompok yang lain. Gesekan antar kelompok suporteran sepak bola misalnya, yang tak jarang berdarah-darah sampai hanya karena ngefans dengan klub sepak bola tertentu berujung pada petaka menghasilkan tangis pada keluarga. Bahkan seolah-olah bangga atas kekuatan kerjasama mereka yang membuat kelompok lain ‘kalah’. Tentu bukan itu yang dimaksud tujuan kerjasama.
Mewujudkan Cita-Cita Bersama
Di dunia ini pasti tidak ada yang mau untuk mengharapkan keburukan pada dirinya. Tentunya setiap orang ingin mewujudkan kebaikan dan keuntungan minimal untuk dirinya sendiri. Pada fitrohnya manusia juga akan bisa menjadikannya kekuatannya masing-masing untuk mendapatkan kesejahteraannya itu. Sesuai dengan teori Darwinisme yang mengatakan bahwa yang kuatlah yang akan menang dan menyingkirkan yang kalah. Tentu hal ini tak masuk pada aspek kemanusiaan, yaitu yang kuat membantu yang lemah  bukan yang mendominasi dan akhirnya menyingkirkan yang lemah. Tentu dalam meuwujudkan cita-cita kelompok berarti harus memperhatikan satu aspek penting layaknya dalam kehidupan sosial yaitu juga memperhatikan keberadaan kelompok lain. Antar kelompok ini jika terjadi hubungan yang sinergis dan saling membantu bukan tidak mungkin capaian yang lebih besar dan tentu dampak yang dihasilkan juga akan lebih besar akan tercapai. Berarti yang pertama jelas tentukan dulu cita-cita yang sinergis tanpa saling gesek antar kelompok. Setelah tu wujudkan cita-cita tersebut dengan cara yang manis tanpa menimbulkan gesekan. Setelah belajar dari bangau itu kita akan mengetahui bahwa tujuan yang jelas dan cara yang benar akan mengantarkan kita pada tujuan yang seharusnya ada.
“If you want go Fast go Alone, but If you want go Long go tegether
Larangan Berpecah Belah
Jika terdapat tujuan-tujuan yang buruk maka akan menimbulkan perpecahan antar kelompok bahkan dalam internal kelompok tersebut yang akhirnya sama sekali tak mendapatkan tuuan tersebut. Sekarang bayangkan jika semuanya bergerak secara bersama-sama untuk mendapatkan tujuan yang nyata serta mendapatkan manfaat dari apa yang sudah dilakukannya itu tidak akan terjadi perpecahan. Namun tidak dibatasi di sini bahwa kemungkinan perbedaan itu mustahil adanya. Bahkan perbedaan itu akan melekat pada setiap individu masing-masing yang membuatnya menjadi unik berbeda dengan yang lain. Seharusnya perbedaan itu bukan menjadi batu pengganjal untuk mencapai tujuan yang sama namun menjadi pelengkap atas kekurangan yang sangat dimungkinkan pada aspek-aspek tertentu dalam kelompok tertentu. Tidak menjadi masalah jika perbedaan itu hanya sebatas pada hal-hal yang masalahnya cabang yang tidak sampai mengubah hal pokoknya. Saling melengkapi akan mempersingkat waktu proses untuk mendapatkan tujuan yang sudah diimpikan bersama.
"Talent wins games, but teamwork and intelligence win championships." --Michael Jordan


Sabtu, 07 Januari 2017

Cermin Diri


Manusia adalah sesuatu yang tak akan pernah bisa melepaskan gelagatnya dari hubungan dengan orang lain. Meskipun itu bagian terkecil dari kebanyakan orang, setidaknya akan bertemu dengan orang lain dan membutuhkan satu sama lain. Karena itulah, para pakar dan kita setuju untuk sepakati bersama, manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang tak bisa lepas dari keberadaan manusia lain.


Tidak berlebihan memang jika manusia disebut sebagai makhluk yang memiliki ketergantungan oleh manusia lain, meskipun pasti tetap ada sisi indvidualistis. Tak usah jauh-jauh kita bayangkan, cukup kita amati kehidupan kita masing-masing. Coba ingat-ingat dan jawab pertanyaan-pertanyaan ini, siapakah yang pertama kali membantu Anda keluar dari rahim Ibu Anda ? setelah itu, siapakah yang akan membantu Anda untuk makan pertama kali ? mengganti popok Anda ketika 'ngompol' ? membantu Anda untuk berlatih berdiri sampai akhirnya bisa berjalan ?. Mungkin Anda sudah lupa, namun semua itulah yang menunjukkan bahwa Anda sangat membutuhkan bantuan orang lain selain dari kehendak Tuhan. Tentunya bahasan tentang hubungan manusia dengan orang lain ini tidak akan habis untuk dibahas dan akan menjadi suatu hal yang akan terus tumbuh dalam diri kita ketika melewati dunia kehidupan ini. Contohnya tak akan khatam untuk kita bicarakan. Walaupun ada ilmu untuk membahasnya tetapi masalah hubungan antar manusia ini akan terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman yang pesat ini.

Untuk memulai lebih lanjut izinkan saya terlebih dahulu menceritakan pengalaman pribadi saya. Kemarin, dengan rutinitas liburan yang seperti biasanya kami (mahasiswa alumni daerah) bergerak ke sekolah-sekolah untuk berbagi semangat kepada adik-adik kami yang kami harap bisa meneruskan semangat yang kami bawa ini. Kami kebetulan sedang mengunjungi ke suatu sekolah di bidang keagamaan di wilayah kabupaten kami atau sering disebut MAN (Madrasah Aliyah Negeri).  Sekolah ini adalah suatu sekolah yang cukup prestatif jika dibandingkan dengan SMA-SMA atau sederajat lainnya, serta memiliki guru-guru yang sangatlah bersemangat membantu siswanya. Saya kira itu bekal yang cukup, karena guru adalah garda terdepan pembentuk masa depan suatu bangsa. 

"Iya, dek ini lo anak-anak saya (siswa MAN) belum ada yang pernah masuk ke kampus kalian." Ujar pak Aad ketika sedang mengobrol santai dengan kami setelah usai sosialisasi kami itu. "Memang butuh perjuangan untuk masuk ke sana" Tambah Pak Aad. 

Dengan suka cita dan riuh ramah obrolan demi obrolan terus saja mengalir bak air yang mengalir pada aliran yang gemercik. Sampai suatu ketika saya mencoba untuk berpamitan dan sedikit mengevaluasi jalannya sosialisasi 'adik-adik' saya tadi dihadapan Pak Aad. "Oh iya pak, maaf tadi anaknya banyak yang kabur-kaburan. Mungkin karena tadi mereka bosan dengan penjelasan yang monoton dari adik-adik saya ini (sambil menunjuk ke arah adik tingkat yang bersosialisasi tadi) yang kurang bagus" Sergap saya dengan canda untuk melunakkan suasana. 

"Kalau begitu Mas Candra juga ngga bagus berarti, lha wong yang sosialisasi kalian lo" balas pak Aad dengan jawaban yang saya mengerti itu juga termasuk bahan penyegar suasana di antara kami.

Mendengar pernyataan pak Aad itu saya jadi teringat sebuah buku yang baru saja  saya baca Winning With People karangan John Maxwell. Dalam salah suatu sub babnya diterangkan tentang prinsip cermin yaitu suatu prinsip dalam hidup manusia yang mengharuskan untuk melihat diri sendiri ketika berhubungan dengan orang lain, instrospeksi diri. "Menghadapi orang sulit, selalu merupakan masalah, terutama jika orang sulit itu adalah Anda" kata John Maxwell.  Jelas sekali betapa pentingnya melihat dan mengevaluasi diri sendiri ketika sedang berhubungan dengan orang lain ini.

Namun kebanyakan orang tidak mengetahui prinsip ini dan sering 'kebobolan'. Seperti yang di sampaikan Pete Rose, "Kodrat tampaknya menganugerahi manusia dengan kemampuan untuk mengukur setiap orang di dunia ini kecuali diri mereka sendiri". Terlihat memang di kehidupan kita banyak sekali orang yang mencibir teman, kerabat, saudara dan pihak lain dan tak memperhatikan seperti apakah dia sebenarnya. 'Kodrat' kata Pete Rose. Hal itu memang sudah lazim di dalam diri setiap orang. Koreksi demi koreksi, prasangka demi prasangka, cibiran demi cibiran dengan mudahnya terlontar dari seseorang untuk memperbaiki seseorang yang ada di sekitarnya. Tak sedikit orang yang bahkan sampai sakit hati dari koreksi-koreksi yang disampaikannya itu. Banyak juga yang akan membalas dengan lebih kasar sampai-sampai akan memperlihatkan pertentangan fisik. Itulah kenyataan yang akan kita temui di masing-masing kita.

John Maxwell mengatakan bahwa hubungan antar manusia adalah salah faktor substansial untuk meraih kesuksesan selain dari keterampilan. Tepat jika kita tak dapak menjaga hubungan baik kita dengan orang lain agaknya kesuksesan akan kita raih dengan sangat berat. Dengan tidak melihat diri sendiri ketika berhubungan dengan orang lain maka secara tidak langsung kita telah menodai hubungan yang kita bangun. Kita setuju bahwa membangun hubungan itu akan lebih sulit daripada untuk merusaknya. Tentu akan mempengaruhi kita selanjutnya. Karena hal tersebut sudah menjadi pola hidup kita yang kita harus hindari.

Jadilah tak dapat dipungkiri lagi bahwa menjaga hubungan baik dengan orang lain akan menjadi bekal bagi kita untuk meraih kesuksesan. Salah satu kunci menjaga hubungan adalah melihat dalam diri sendiri. Manfaat yang diperoleh juga tak akan sepele karena hal itu banyak hal yang akan diperoleh setelahnya. Contoh yang mungkin bisa diambil pejaran adalah seorang pendiri Microsoft perusahaan soft ware yang sangat mudah digunakan. Bill Gates meraih kesuksesan dengan seorang teman yang setia menyokongnya Paul Vallen, yang menjadikan Microsoft seperti sekarang ini. 

Dalam winning with people John Maxwell menerangkan beberapa cara untuk menjaga hubungan dan terus bisa berkaca terhadap dirinya. Disebutnya dalam Tes Cermin. 

TES CERMIN
1. Orang pertama yang harus kenal adalah diri sendiri- kesadaran diri
2. Orang pertama yang menjadi sahabat terbaik saya adalah diri sendiri- citra diri
3. Orang pertama yang akan menimbulkan masalah adalah diri sendiri- Kejujuran pada diri sendiri
4. Orang pertama yang harus saya ubah adalah diri sendiri- perubahan diri
5. Orang pertama yang bisa membuat perbaedaan adalah diri sendiri- tanggung jawab pribadi

Dari semua yang dipaparkan di atas mungkin pertama kali Anda berkesimpulan bahwa "kenapa semua cara tes itu egoistis ?". Setelah pernyataan John Maxwell ini mungkin bisa menambah parameter kesimpulan Anda dan berubah pikiran. 

"Seorang yang angkuh bisa digambarkan bukan sebagai seseorang yang berpikir terlalu banyak tentang dirinya, melainkan sebagai seseorang yang berpikir terlalu sedikit tentang orang lain."
Jika Anda ingin meraih kesuksesan Anda coba perhatikan diri Anda lalu perhatikan lingkungan Anda. Atau jika Anda merasa ada yang salah dengan hidup Anda tak bijak jika Anda memperhatikan lingkungan Anda melainkan diri Andalah yang berhak untuk segera mendapat pembenaran. Buat kebermanfaatan sebesar mungkin maka Anda akan menjadi orang yang terbaik. 

Kamis, 22 Desember 2016

[Resensi Buku 4] : SANG AL KEMIS (The Alchemist)

Pengarang : Paulo Coelho

Buku yang kali ini coba diresensikan adalah buku yang mungkin berbeda dengan buku-buku yag sebelumnya saya coba review. Pembelian buku ini kemarin tepat pada 15 Desember 2016 di Gramedia Bandung tepat setelalh UAS semester 5 ini berakhir. Alih-alih untuk memenuhi hasrat saya untuk mendapatkan hiburan yang saya coba manfaatkan agar lebih produktif. Hari pertama berlangsung pembacaan dengan cerita yang menarik lagi sarat dengan hikmah dalam buku tersebut, sampai akhir halaman 100-an lah dapet. Hari baca berikutnya berlangsung dan disambut dengan pengumuman Kinematika dan Dinamika eh, malah ada perasaan untuk mengikuti ujiannya dari sebelumnya semangat untuk berlibur eh malah ujian lagi, nasib, nasib... ya udahlah belajar lagi sip. kata imam Syafii "Barang siapa tidak sanggup untuk menanggung lelahnya belajar, maka akan menanggung pedihnya kebodohan." Yah dengan sebuah kalimat mutiara saya mulai membuka buku-buku catatan lagi. Sip deh muqodimahnya sudah cukup.

Mulai masuk isi buku ya siap-siap.

Cerita berawal dari seorang anak laki-laki bernama Santiago yang tak lain adalah seorang penggembala domba di salah satu di kota Andalusia. Yang unik dari buku ini daripada buku-buku yang lain adalah subjek yang ada tidak disebutkan dengan nama secara langsung namun hanya menyebutkan sebutan gelarnya saja. Sebagai contoh Santiago pada buku ini hanya disebutkan dari awal sampai akhir seagai seorang anak laki-laki. Atau mungkin ini adalah ciri khas dari penulis Paulo Coelha ?  Saya juga tidak tahu menahu tentang semua ini karena jujur saya baru pertama kali membaca buku karangan Paulo Coelho.

Santiago adalah seorang anak gembala yang memiliki kemampuan baca tulis, kemampuan yang jarang dimiliki atau tidak pernah malahan bagi seorang penggembala. Sebenarnya  hal ini bukanlah hal yang seharusnya terjadi. Pada awalnya orang tua Santiago menginginkannya untuk menjadi seorang Rahib di daerah tepat tinggalnya. Namun Santiago bersikeras untuk menjadi penggembala saja karena kesukaannya terhadap petualangan.

Pada suatu hari ketika sudah mulai menjalani pekerjaannya sebagai penggembala dia bermimpi menemukan harta karun di tempat yang jauh, suatu negeri yang memiliki piramida. Mimpi itu tidak terjadi satu kali namun terjadi sebanyak dua kali. Pada akhirnya dia memutuskan untuk menjadi penggembala dan melakukan petualangan ke luar daerahnya.

Dalam perjalanan itu sang anak laki-laki  menjumpai berbagai macam orang pada tempat yang berbeda yang tujuan hanya satu yaitu untuk menemukan harta karun yang sudah diimpi-impikannya. Antara lain si anak muda bertemu dengan perempuan, lelaki tua yang mengaku raja Bernama Salem, penjual kristal yang berada di wilayah yang tidak strategis lagi, dan orang Inggris yang bertujuan untuk berguru kepada orang pintar yang disebutnya sebagai Al Kemis.

Pengembaraan itu melahirkan sebuah ilmu pengetahuan baru bagi si anak laki-laki. Berbagai hikmah dari pengembaraan yagn datang dari berbagai sumber pula. Dari orang lain ataupun hasil kontemplasinya sendiri dari pengalaman kehidupannya.

Seperti contoh sebauh hikmah yang ia dapatkan dari bertemu dengan Laki-laki Tua, "Jika bersungguh-sungguh, pastilah seluruh alam semesta akan membantu." "Harus peka terhadap pertanda-pertanda". Dari pesan yang ia dapatkan dari bapak tua itu ia menjadi tahu akan kehidupan. Lebih peka terhadap pertanda-pertanda yang ia lewati selama perjalanan, dan bahkan dia sampai memahami cara untuk berkomunikasi dengan makhluk selain manusia, yang disebutnya sebagai bahasa dunia. Karena ia menganggap bahwa semua makhluk hidup di dunia ini mengerti apa yang dia katakan namun dengan bahasa yang berbeda. Itulah pengetahuan yang menjadu hikmah untuknya dan membuatnya memiliki kelebihan untuk berkomunikasi.

Sebuah waktu yang membuatnya tak bisa melupakan perjalanan itu adalah ketika dia sampai sebuah Oasis dan bertemu dengan perempuan yang membuat hatinya lansung berdegub kencang. Sebenarnya memang pertemuan itu tidak sengaja yang dimulai dari sebuah pertanyaan encari keberadaan dari sang Al Kemis. Dari sana dia mendapatkan sebuah pelajaran berharga pula "Cinta tidak akan menghalangi seseorang untuk menghalangi takdirnya".

Sampai pada akhirnya si anak lelaki dipertemukan dengan sang Alkemis untuk mendapatkan takdirnya sebagai peraih harta karun. Dari sang Alkemis itu tentu ia mengambil banyak sekali pelajaran yang membuat hidup dan pemikirannya yang lebih berkembang.

Sampai pada akhirnya di bertemu dengan sebuah suku Arab badui yang sedang berperang dan sempat dijadikan sebagai tawanan. (pada bagian ini jujur saya mulai tak paham dari yang diceritakan buku ini) Dari pertemuan itu si anak diminta untuk menjadi angin. Anak itupun menawarkan untuk memperoleh waktu persiapan selama tiga hari dan akhirnya dan diberi waktu seesuai dengan permintaan. Satu, dua hari berlalu tanpa hasil yang bermakna yang ia lalui dengan berkomunikasi dengan Alam sekitar (ngga paham pokoknya :D). Akhir kata ia berubah menjadi angin, dan mendapatkan hartu karun yang teletak di tempat saat awal dia memulai perjalanan.

Sip sudah ya, kalau mau lebih lengkapnya dan tentunya akan lebih seru silakan baca saja sendiri bukunya. Mungkin yang saya tuliskan ini sangat tidak lengkap dan pastinya bahasanya kalah jauh dengan buku aslinya. Untuk Indonesia kemajuan literasi bangsaku hehe.

Sip sekian

Minggu, 11 Desember 2016

[Resensi buku#3] : Sikap Manusia
Penulis : Dr. Syaifudin Azwar, M.A.
Buku yang sudah lama saya lama ini akhirnya bisa saya baca di tengah kegiatan saya sebagai mahasiswa teknik mesin. Buku psikologi yang menurut saya mulai menarik perhatian saya untuk dipelajari. Hubungan dengan manusia, perasaan manusia, dan rekayasan relasi manusia. Perhatian manusia tentang perasaan untuk saling berhubungan satu sama lain akan membuat manusia satu dengan yang lain.
Ternyata dalam hubungan manusia selama ini sudah ada teori yang membahas. Hal inilah yang membuat menariik dari ilmu psikologi yang selama ini selalu dipikirkan dan membuat orang memperkeruh pemikiran karena selalu memikirkan sesuatu yang sebenarnya sudah ada pola yang menghabiskan pikiran halayak umum di dunia ini.
Buku sikap manusia ini membahas teori-teori tentang sikap. Bagaimana sikap manusia itu terbentuk, definisi sikap manusia, sampai perubahan sikap manusia baik secara natural maupun rekayasa sesuai dengan kehendak.
Sedikit menyinggung tentang mengubah sikap manusia sesuai dengan keinginan kita, cukup menarik perhatian. Bagaimana tidak jika seseorang memiliki kemampuan untuk mengubah sesuai dengan keinginan maka secara langsung akan mengubah hidup dari seseorang yang menjadi objek perubahan itu. Hal ini menjadi pemabahasan penting bagi seseorang yang memiliki power di tengah kehidupan bermasyarakat. Ketika sosok itu bervisi baik dan memperbaiki kehidupan tentu kemampuan ini akan menjadi bekal yang sangat signifikan untuk mendapatkan pendukung sesuai dengan apa yang dibawanya. Masalah timbul ketika kemampuan ini dimiliki oleh orang yang memiliki visi jelas namun tujuan akhirnya hanya untuk mendapatkan kesejahteraan indivual.
Dalam buku ini ada satu bab yang membahas secara khusus tentang rekayasa sikap. Dengan judul “persuasi dan pengubahan sikap manusia”. Pada bab ini dibahas bagaimana cara untuk mendapatkan hal yang paling terbaik untuk mendapatkan hasil efektif mendapatkan perubahan sikap seperti yang diinginkan.
Pembahasan tentang strategi persuasi. Seperti yang dikutip dalam bab ini “dasar-dasar manipulasi itu diperoleh dari organisasi sikap, mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemebentukan sikap, terutama berkaitan dengan pembentukan stimulus untuk menghadirkan respon yang dikehendaki” (saifuddin azwar: 61)
Menurut teori yang dibahas dalam buku ini perubahan sikap manusia itu ditempuh dalam 3 tahap, kesediaan, identifikasi dan internalisasi. Berdasarkan tiga tahap itulah menurut teori, sikap akan terbentuk.

 Dibahas juga bagaiman cara untuk mengubah sikap seseorang. Pendekatan tradisional dengan istilah “who says what to whom and with what efect”. Kedua dibahas pendekatan teori kognitif dengan sebauh pertanyaan yang muncul yaitu ‘proses kognitif apa yang menentukan sehingga orang dapat dikenai persuai’. Pada perspektif ini memusatkan perhatiannya terhadap analisis respon kognitif.

Sabtu, 22 Oktober 2016

[Resensi Buku 2] : Filsafat Ilmu (Perspektif Barat dan Islam)



Resensi Buku
Judul buku      : Filsafat Ilmu (Perspektif Barat dan Islam)
Pengarang       : DR. Adian Husaini, et. al.
Tebal buku      : 292 (tidak termasuk halaman pendahuluan)
Penerbit           : Gema Insani
Buku yang disusun oleh pak Adian Husaini ini sejatinya kumpulan artikel-artikel yang dari beberapa tokoh pemikiran Islam yang menjadi rujukan para intelek-intelek muslim Indonesia. Pada buku yang satu ini secara khusus dibahas tentang asal muasal dari senuah Ilmu. Menjelaskan perjalanan ilmu hingga menjadi seperti sekarang ini.
Ilmu pengetahuan adalah suatu yang mutlak dan harus dimiliki orang untuk bisa mengrmbangkan kemampuannya dalam banyak aspek kehidupan  Dalam perspektif barat, barat sudah banyak membuat ilmu pengetahuan yang penting dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dalam pandangan Syed Muhammad Naquib Al-latas pengetahuan barat sudah merusak ilmu pengetahuan secara mendasar. Ilmu pengetahuan Barat dibuat berdasarkan tradisi dengan landasan filosofisnya yang merusak dasar penurunan ilmu pengetahuan yaitu dari wahyu tuhan. Pengetahuan Barat hanya didasarkan oleh rasionalitas pemikiran manusia dan sangat mengesampaikan aspek wahyu di dalamnya.
Sejatinya dalam Islam terdapat rasionalitas dalam berpikir. Namun, dalam menggunakan kapasitas dalam perspektif Islam tidak memisahkan antara rasional dan penurunan wahyu, itulah yang disebut filsafat Islam sekaligus yang membedakan dengan filsafat Barat.
Dalam ilmu filsafat terdapat secara khusus cabangnya yang mempelajari tentang ilmu pengetahuan yaitu epistemologi. Dalam Islam tentunya epistemogi juga dipelajari secara detail terkait dengan penurunan perdana sampai tataran pembahasan detailnya. Dalam perspektif Islam ilmu diprioritaskan untuk dikuasai. Hal ini terlihat ketika wahyu pertama-tama turun. Wahyu pertama ini menjelaskan tentang urgensi ilmu pengetahuan untuk memperbaiki kelayakan hidup manusia, melalui baca tulis. Dari surat Al-‘alaq sampai surat  Al-Qalam yang merupakan wahyu yang pertama-tama turun membahas tentang pentingnya pengetahuan.
Ilmu dalam Islam itu adalah sebuah himbauan, petunjuk, dan larangan oleh karena itu ilmu dalam Islam sudah sangat komprehensif. Menuntut ilmu agama dalam Islam adalah fardhu ‘ain yang harus dilakukan setiap individu. Tujuannya adalah untuk membentuk pribadi-pribadi yang semakin taat ketika bertambah ilmunya. Hal ini juga relevan dengan kenyataan yang terjadi sekarang yaitu ketika seseorang itu mempelajari ilmu lain selain ilmu agama, ilmu pengetahuan misalnya, itu akan menjauhkan dari Allah.  Hal itu berbanding terbalik dengan tujuan ilmu yang seharusnya.