Minggu, 16 April 2017

Apakah beasiswa sudah benar ?

Pastilah kamu mengetahui bahwa kehidupan di sekeliling kita masih terdapat kesenjangan sosial serta  kesenjangan ekonomi yang tinggi. Kesenjangan itu sudah mulai teratasi yang terbukti dari banyak teman-teman kita dari daerah terpencil memiliki motivasi sampai bisa menjalani pendidikan bahkan sampai tingkatan yang paling tinggi. Hal itu tak akan lepas dari adanya dukungan dari pihak-pihak yang memiliki rasa untuk membantu sesama. Meskipun hal itu sudah menjamur di kalangan masyarakat Indonesia, namun masih tetap saja ada ketidak samaan antara aspek penting dalam kehidupan itu (baca : ekonomi, sosial, dan pendidikan). Baik dari segi aspek kuantitas maupun kualitasnya masih saja ada yang kurang.
Coba kita soroti dulu aspek yang menjadi tulang punggung keseimbangan kehidupan, aspek ekonomi. Masih saja kita melihat anak jalanan yang mungkin jika bersekolah mungkin masih di bangku SD masih bermain di jalan untuk sekedar memenuhi kantong plastik dengan uang-uang receh hasilnya mengamen, kakek-kakek nenek-nenek yang sepertinya ‘sudah’ tak mampu untuk melanjutkan kehidupan dengan mengiba mengharap belas kasihan orang lain di pojok-pojok gang. Masih banyak permasalahan bangsa ini yang seharusnya diatasi. Aspek penting yang bisa menjadi alasan utama kenapa kita bisa memperbaiki hidup dengan lebih baik serta untuk mengatasi kerusakan aspek yang lain. Lalu apa solusinya ?
Salah satu soslusi terjitu adalah pendidikan, aspek yang saya sebut sebagai tulang punggung kemajuan peradaban dunia sekarang ini. Kemudahan-kemudahan hari ini bisa didapat karena perkembangan yang sangat pesat hari ini.
Pernah mendapat cerita dari seoarang sahabat yang begitu menginspirasi. Sahabat saya ini berasal dari sebuah desa terpencil di Provinsi Lampung. Bayangkan ketika sudah sampai di pinggir jalan angkutan umum kita perlu naik ojek dengan jalan berlumpur selama 3-4 jam untuk menuju ke kampungnya. Dia tinggal bersama dengan delapan orang adiknya, keadaan keluarganya pas-pasan. Keluarga sebanyak itu menjadi saya kira cukup untuk menjadi pembakar semangatnya untuk mengembangkan diri sejauh ini. Ketika dia ditanya “Kenapa kamu bersekolah jauh-jauh sampai di sini ?” (kebetulan sahabat ini sedang menempuh pendidikan S1 di Bandung). Jawabnya hanya satu kalimat sederhana namun mendalam “Hanya pendidikan yang bisa membuat keluarga saya selamat dari kemiskinan”. Sangatlah masuk akal, karena kita tahu dengan pendidikan taraf hidup seseorang itu akan meningkat seiring dengan seberapa pandai ia memanfaatkannya walaupun ada aspek yang tak terduga untuk memperoleh kesenangan di dunia.
Permasalahan yang selanjutnya muncul adalah bagaimana bisa menempuh pendidikan di Indonesia dengan segala biaya yang terasa mencekik nadi. Zaman modern ini memiliki berbagai solusi untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Bisa dengan bekerja, mencari sekolah gratis yang sudah marak dimana-mana, serta adanya biaya bantuan dari pihak lain untuk pendidikan kita atau yang sering kita sebut dengan beasiswa.
 Beasiswa adalah suatu bentuk dana yang digulirkan untuk membantu pelaksanaan program pendidikan dalam kalangan pelajar. Banyak sekali lembaga yang mentyediakan beasiswa modern ini karena kita tahu bahwa sangatlah penting untuk kemajuan sebuah bangsa. Tentunya lembaga-lembaga ini memiliki suatu visi yang digunakan sebagai motif untuk memberikan beasiswa. Diantaranya untuk merekrut Sumber Daya Manusia yang unggul, membantu orang yang kurang mampu, meningkatkan suatu komunitas dan masih banyak lagi motif kenapa suatu lembaga memberikan beasiswa kepada penerima beasiswa sesuai dengan keperluannya.
Contoh dari lembaga yang membrikan beasiswa biasanya bisa dari perorangan, kementerian, yayasan, lembaga zakat dan bahkan bank konvensional dan lain-lain.
Jika melihat dari sudut pandang syariat sebenarnya dalam mendapatkan suatu beasiswa perlu adanya pengajuan sebelumnya yang digunakan untuk syarat pengajuan. Dalam Islam meminta-minta itu dilarang sebgaimana hadits yang sudah ada berikut ini
Dari Abdullah Ibnu Umar radiyallahu’anhu Nabi shalallahu ‘alayhi wassalam  “ seorang yang terus menerus meminta-minta kepada orang lain itu akan datang pada hari kiamat dlam kondisi tidak ada secuuil daging pun di wajahnya.”(HR. Bukhori & muslim)
Jelas tertera pada hadits tersebut tidaklah boleh seorang muslim meminta-meminta kepada muslim yang lain.
Juga hadits beirkut :
“barang siaoa yang meminta bukan karena faktor kemiskinan itu seakan-akan memakan bara api” (HR. Ahmad)
Dalam hal ini perlu digaris bawahi yaitu tentang bagaimana seseorang memiliki kemampuan untuk mencukupi kebutuhannya. Dan harus digaris bawahi juga bahwa bekerja dengan orang lain (ijarah) itu berbeda dengan meminta (mas’alah). Meminta-menita yang disebut dalam hadits di atas adalah su’al yaitu meminta-minta sedekah dari orang lain.
Jadi ketika ada kontrak yang menyebutkan behwa oenerima beasiswa ini adalah seorang yang siap mengabdi pada lembaga yang sudah memberikan beasiswa maka tidak mengapa untuk dilakukan.
Lembaga yang memberikan beasiswa itu penting juga untuk dikaji karena pada lembaga itu akan berpengaruh bantuan yang diberikan. Karena dalam agama yang syumul ini tidak hanya dibahas tentang untuk apa harta yang dimiliki ini tetapi juga darimana datangnya harta itu, yang kita meyakini bahwa aka nada pertanggung jawaban atas apa yang dititipkan Alah kepada ini.
Pendapat pertama ulama setuju dan mengatakan jika harta itu seluruhnya haram dan tidak tercampur dengan yang halal maka hokum menggunakannya adalah haram. Pendapat kedua, ketika harta itu tidak seluruhnya haram masih ada harta yang halal di dalamnya maka di sini terdapat perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan bahwa harta halal itu menjadi haram ketika sudah tercampur dengan harta yang haram. Namun selanjutnya ada yang berpendapat tergantung dari kadarnya jika lebih banyak yang halal maka harta itu menjadi halal dan sebliknya.
Nah dengan demikian kita perlu selektif dalam memilih beasiswa yang sudah kita dapat atau ang sedang kita usahakan karena akan mempengaruhi pertanggung jawaban kita nanti di hadapan Allah azza wa jalla.
Allahu ‘alam bish shawwab


Referensi