Senin, 19 September 2016

[Resensi Buku] Kemi 1 (Cinta Kebebasan yang Tersesat)

Judul :
Kemi 1 (Cinta Kebebasan yang Tersesat)
Penulis :Adian Husaini
Penerbit :Gema Insani
Tahun Terbit: 2013
Cetakan :5
Kategori :Novel pemikiran kontemporer, Roman
Jumlah Halaman : 316


Siapa yang tidak tahu Adian Husaini seorang pejuang pemikiran Islam untuk mengantisipasi pemikiran menyimpang di Indonesia. banyak orang akan memiliki ketertarikan tersendiri ketika melihat namanya terpampang di buku manapun maka akan tertarik untuk membaca. Begitupun saya, saya tertarik untuk membaca buku Kemi 1 ini salah satunya karena buku ini ditulis oleh Pak Adian (salah satu motif membaca buku).
Buku ini adalah sebuah novel yang berisi kasus terkini tentang  pemikiran Islam yang sampai sekarang menjadi ancaman bagi  mendasar bagi akidah umat Islam. Buku ini bercerita tentang seorang santri pondok pesantren di Madiun, Ahmad Sukaimi atau biasa dipanggil Kemi, seperti judul buku ini. walaupun begitu ternyata buku ini lebih banyak menceritakan aktivitas dari teman Kemi di pesantren Rahmat.

Kemi adalah santri yang pandai dan cerdas, namun masih labil dan ingin mencoba-coba kehidupan yang baru. Karena dianggapnya kehidupan pesantren adalah kehidupan yang kuno dan perlu dikembangkan. Suatu saat kemi ditawari oleh Farsan -alumni pesantren sealmamater- untuk bergabung dengan dirinya pergi Jakarta untuk mengembangkan pergaulannya. Kemi menerima tawaran Farsa untuk pergi ke Jakarta dan akhirnya merekapun pergi ke Jakarta, meskipun Kyai Rois (Kyai Pimpinan Pesantren) masih belum merestui secara penuh keputusan Kemi untuk ikut dengan Farsan.

Di Jakarta Kemi dimasukkan Farsan ke suatu Universitas yang mengedapankan kebebasan berpikir dan memberi ruang yang luas untuk berpendapat. Kemi dikenalkan dengan berbagai kelompok orang-orang yang berbeda-beda mulai dari suku, ras, maupun agama bahkan ada yang tak beragama. Pertama-tama Kemi merasa jika apa yang dijumpainya itu adalah hal yang tabu dan tidak pernah dia temui ketika di pesantren. Pergaulan antara perempuan dan laki-laki yang dianggap sudah biasa. Tidak hanya itu, dipergaulan Kemi yang baru ini, perempuan dianggap memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Ejek-mengejek antara laki-laki dan perempuan sangat biasa diantara mereka.

Setelah sudah berjalan kehidupannya di Jakarta Kemi mulai ditawari untuk mengadakan pelatihan-pelatihan yang berkedok kebebasan, inklusifitas kelompok. Dalam kegiatan itu, Kemi dan tim mempropagandakan bahwa tidak kebenaran absolut di dunia ini dan membuat kebenaran itu bersifat relatif. Menyamakan agama satu dengan agama lain, menganggap bahwa agama itu semua benar terantung perspektif masing-masing, menganggap bahwa tuhan itu sama tinggal cara menyembah dan menyebutnya saja dan segala pemikiran mentimpang lainnya. Semua pemikirannya itu adalah hasil dari pemikir- pemik orientalis barat yang sangat mengedepankan akal di atas segala sesuatu. Namun ada yang aneh dengan mereka, setelah banyak sekali penimpangan pemikiran maupun perilaku mereka, mereka tetap mengaku Islam. Orang-orang yang sedang bergaul dengan Kemi ini adalah bisa disebut kelompok Islam liberal mengaku Islam tetapi tidak mau menjalankan hal substantial dari islam.

Karena masalah ini Kemi meresahkan Kyai Rois dan anggota pesantren Minhajul Abidin lainnya. Tindakan-tindakan Kemi ini sudah disiarkan ditelivisi-televisi swasta nasional dan Kemi bangga untuk mengakui bahwa dia berpemahaman liberal. Banyak kalangan yang menyerang pesantren karena ulahnya itu, dianggap pesantren mengajarkan pemahaman itu kepada santri-santrinya. Namun Kyai Rois bersikap bijaksana menghadapi pemberitaan miring tersebut, dia mengatahkan bahwa memang itu adalah pilihan dari Kemi untuk menapaki jala seperti itu.

Masalah Kemi semakin lama semakin larut dan mengakar sulit untuk dibasmi. Sampai suatu ketika Kyai Rois memutuskan untuk menyelesaikan masalah itu dengan mengutus Rahmat sebagai tangan kanannya. Sebelumnya Rahmat adalah santri yang sekarang sudah mengabdi untuk pesantren dikenal rupawan, dan sangat cerdas. Rahmat dibekali banyak hal oleh Kyai Rois tentang ilmu pemikiran kontemporer, dilatih pemikiran kritis selain yang diperolehnya pada pelajaran ilmu Mantiq yang diperolehnya di pesantren. Setelah siap dengan segala persiapan intensif yang dibekalkan kepada Rahmat akhirnya Rahmat berangkat ke Jakarta denga misi akan membawa Kemi ke pesantren. Kyai Rois juga berpesan kepada Rahmat sebanyak tiga poin ketika sudah berada di Jakarta. Pertama, Rahmat harus terus menggali ilmu untuk menambah wawasan untuk menghadapi pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Kedua, Rahmat harus tetap berkomunikasi dengan Kyai Rois atas segala hal yang terjadi pada kegiatan Rahmat selama di Jakarta. Ketiga Rahmat ditekankan untuk berdo’a kepada Allah karena bagaimanapun usaha manusia jika Allah belum ridho maka akan sia-sia.
Setelah sampai di Jakarta dan merasakan kehidupan sekitar Kemi, Rahmat menemukan hal-hal aneh. Kemi dan orang-orang yang mengunjungi rumah Kemi tidak pernah sholat meskipun mereka mengaku golongan penegak kebebasan Islam. Hal itu juga dirasakan oleh masyarakat sekitar kostan Kemi. Mereka lebih sering berdiskusi hingga larut malam tapi melupakan untuk sholat dan ibadah lainnya. Rahmat juga menemukan hal aneh ketika berada di kampus Damai Sentosa kampus dimana Kemi kuliah. Dari penampilan karyawannya yang sangat mencolok, administrasi yang sangat mudah namun terdapat paradoks di tempat itu yaitu fasilitas kuliah-kuliahnya sangat bagus untuk melakukan aktivitas perkuliahan. Tempat umum yang bersih, perpustakaan yang sangat lengkap memudahkan untuk mahasiwanya mengembangakan diri yang sangat berbanding terbalik dengan segala kemudahan administrasinya itu. Biasanya jika semakin ribet administrasinya maka fasilitas akan semakin baik. Rahmat juga mengetahui hubungi Kemi dengan beberapa perempuan yang bisa dibilang dekat, tetapi tidak pacaran bahkan menikah. Salah satu perempuan itu bernama Siti. Siti adalah gadis cantik anak Kyai yang memiliki pesantren di Banten namun berpakaiann serba ketat, jeans, kaos dengan segala lekuk tubuhnya kelihatan, jilbab juga sangat pendek hanya sempat menutupi rambut.

Rahmat kenal dengan Siti berbeda dengan perempuan yang lain. Setelah lama berhubungan dengan Siti Rahmat mengetahui bahwa Siti mengakui kalau kehidupannya yang sekarang ini adalah sebuah pengalihan dari kekangan keluarganya yang memaksakan setiap kegiatan Siti. Hubungan yang dibina Rahmat dan Siti itu lama kelamaan membuahkan simpati dari Rahmat kepada Siti sebenarnya keduanya mengakui jika saling menyukai, namun rasa itu tetap terus ditentang untuk tetap menjaga kebaikan antara keduanya, apalagi Rahmat yang tidak mungkin melakukan hal-hal bodoh seperti itu.
Setelah masuk hari pertama di kampus, Rahmat langsung mengikuti perkuliahan yang diisi oleh rektor secara langsung, Pak Malikan. Pak Malikan-rektor Universitas Damai Sentosa- adalah seorang pakar pemikiran kontemporer yang mengaku adanya kebebasan beragama dan mempercayai perbedaan akan tercipta jika terus ada toleransi. Beliau juga sering muncul di televisi mengisi kajian atau perdebatan tentang ilmu perbandingan lintas agama dan menganggap kebenaran itu milik semua agama. Pada kuliah pertama Rahmat itu dia berhasil membuat pak Malikan tidak berkutik untuk melanjutkan kuliahnya. Pendapat dan logika-logika yang diutarakan Pak Malikan juga dipatahkan oleh Rahmat karena semua itu sudah di pelajarinya dulu ketika dibina dipesantren baik melalui mempelajari buku-buku pemikiran kontemporer maupun hasil diskusi dengan Kyai Rois.

Di hari yang lain juga Rahmat berhasil membuat salah satu tokoh mereka kehilangan akal untuk menanggapi Kyai kondang Jawa Barat Kyai Dulpikir di sebuah kuliah umum di Universitas Damai sentosa. Hingga kyai akhirnya Kyai ini mengakui segala kesalahan berpikir dan memutuskan untuk bertaubat dan berterima kasih kepada Rahmat yang telah mengingatkannya sebelum akhirnya meninggal dunia pada saat itu juga.

Berita kematian Kyai dulpikir menjadi bahan besar media untuk menggembor-gemborkannya sampai ke pelosok negeri. Pemberitaan itu membuat Rahmat menjadi bahan omongan pada saat itu dan sempat menjadi incaran komplotan liberal untuk di eksekusi. Akhirnya Rahmat diselamatkan oleh kenalan Kyai Rois dengan dibawa ke sebuah kantor media massa untuk mendapatkan perlindungan yang lebih. Di kantor itu Rahmat dilindungi dan diberi fasilitas tempat tinggal, diperbolehkan juga untuk belajar menulis.

Di lain tempat ternyata terdapat beberapa kejadian yakni komplotan Kemi yang mengusung kebebasan dan segala pelatihan terkait, terbongkar yang sudah dihakimi. Namun sebelum hal itu Siti sudah menjadi korban dianiaya dengan diracun yang menyerang organ-organ pentingnya. Serta kemi yang dihajar habis-habisan sehingga otaknya mengalami gangguan. Di situ terbukti bahwa kelompok itu hanya berorientasi kepada uang dan kehidupan sendir tak seperti yang disebutkan di awal bahwa mereka memperjuangkan intelektual dan pemikiran.

Sekian resensi buku Kemi 1 dari saya, jika ada kurangnya mohon maaf, jika ingin membaca detailnya yuk langsung saja baca bukunya.