Penulis :Adian Husaini
Penerbit :Gema Insani
Tahun Terbit: 2013
Cetakan :5
Kategori :Novel pemikiran
kontemporer, Roman
Jumlah Halaman : 316
Siapa yang tidak tahu Adian
Husaini seorang pejuang pemikiran Islam untuk mengantisipasi pemikiran
menyimpang di Indonesia. banyak orang akan memiliki ketertarikan tersendiri
ketika melihat namanya terpampang di buku manapun maka akan tertarik untuk
membaca. Begitupun saya, saya tertarik untuk membaca buku Kemi 1 ini salah
satunya karena buku ini ditulis oleh Pak Adian (salah satu motif membaca buku).
Buku ini adalah sebuah novel yang
berisi kasus terkini tentang pemikiran
Islam yang sampai sekarang menjadi ancaman bagi
mendasar bagi akidah umat Islam. Buku ini bercerita tentang seorang
santri pondok pesantren di Madiun, Ahmad Sukaimi atau biasa dipanggil Kemi,
seperti judul buku ini. walaupun begitu ternyata buku ini lebih banyak
menceritakan aktivitas dari teman Kemi di pesantren Rahmat.
Kemi adalah santri yang pandai dan
cerdas, namun masih labil dan ingin mencoba-coba kehidupan yang baru. Karena
dianggapnya kehidupan pesantren adalah kehidupan yang kuno dan perlu
dikembangkan. Suatu saat kemi ditawari oleh Farsan -alumni pesantren
sealmamater- untuk bergabung dengan dirinya pergi Jakarta untuk mengembangkan
pergaulannya. Kemi menerima tawaran Farsa untuk pergi ke Jakarta dan akhirnya
merekapun pergi ke Jakarta, meskipun Kyai Rois (Kyai Pimpinan Pesantren) masih
belum merestui secara penuh keputusan Kemi untuk ikut dengan Farsan.
Di Jakarta Kemi dimasukkan Farsan
ke suatu Universitas yang mengedapankan kebebasan berpikir dan memberi ruang
yang luas untuk berpendapat. Kemi dikenalkan dengan berbagai kelompok
orang-orang yang berbeda-beda mulai dari suku, ras, maupun agama bahkan ada
yang tak beragama. Pertama-tama Kemi merasa jika apa yang dijumpainya itu
adalah hal yang tabu dan tidak pernah dia temui ketika di pesantren. Pergaulan
antara perempuan dan laki-laki yang dianggap sudah biasa. Tidak hanya itu,
dipergaulan Kemi yang baru ini, perempuan dianggap memiliki hak yang sama
dengan laki-laki. Ejek-mengejek antara laki-laki dan perempuan sangat biasa
diantara mereka.
Setelah sudah berjalan
kehidupannya di Jakarta Kemi mulai ditawari untuk mengadakan
pelatihan-pelatihan yang berkedok kebebasan, inklusifitas kelompok. Dalam
kegiatan itu, Kemi dan tim mempropagandakan bahwa tidak kebenaran absolut di
dunia ini dan membuat kebenaran itu bersifat relatif. Menyamakan agama satu
dengan agama lain, menganggap bahwa agama itu semua benar terantung perspektif
masing-masing, menganggap bahwa tuhan itu sama tinggal cara menyembah dan
menyebutnya saja dan segala pemikiran mentimpang lainnya. Semua pemikirannya
itu adalah hasil dari pemikir- pemik orientalis barat yang sangat mengedepankan
akal di atas segala sesuatu. Namun ada yang aneh dengan mereka, setelah banyak
sekali penimpangan pemikiran maupun perilaku mereka, mereka tetap mengaku
Islam. Orang-orang yang sedang bergaul dengan Kemi ini adalah bisa disebut kelompok
Islam liberal mengaku Islam tetapi tidak mau menjalankan hal substantial dari
islam.
Karena masalah ini Kemi
meresahkan Kyai Rois dan anggota pesantren Minhajul Abidin lainnya.
Tindakan-tindakan Kemi ini sudah disiarkan ditelivisi-televisi swasta nasional
dan Kemi bangga untuk mengakui bahwa dia berpemahaman liberal. Banyak kalangan
yang menyerang pesantren karena ulahnya itu, dianggap pesantren mengajarkan
pemahaman itu kepada santri-santrinya. Namun Kyai Rois bersikap bijaksana
menghadapi pemberitaan miring tersebut, dia mengatahkan bahwa memang itu adalah
pilihan dari Kemi untuk menapaki jala seperti itu.
Masalah Kemi semakin lama semakin
larut dan mengakar sulit untuk dibasmi. Sampai suatu ketika Kyai Rois
memutuskan untuk menyelesaikan masalah itu dengan mengutus Rahmat sebagai
tangan kanannya. Sebelumnya Rahmat adalah santri yang sekarang sudah mengabdi
untuk pesantren dikenal rupawan, dan sangat cerdas. Rahmat dibekali banyak hal
oleh Kyai Rois tentang ilmu pemikiran kontemporer, dilatih pemikiran kritis
selain yang diperolehnya pada pelajaran ilmu Mantiq yang diperolehnya di
pesantren. Setelah siap dengan segala persiapan intensif yang dibekalkan kepada
Rahmat akhirnya Rahmat berangkat ke Jakarta denga misi akan membawa Kemi ke
pesantren. Kyai Rois juga berpesan kepada Rahmat sebanyak tiga poin ketika
sudah berada di Jakarta. Pertama, Rahmat harus terus menggali ilmu untuk
menambah wawasan untuk menghadapi pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Kedua,
Rahmat harus tetap berkomunikasi dengan Kyai Rois atas segala hal yang terjadi
pada kegiatan Rahmat selama di Jakarta. Ketiga Rahmat ditekankan untuk berdo’a
kepada Allah karena bagaimanapun usaha manusia jika Allah belum ridho maka akan
sia-sia.
Setelah sampai di Jakarta dan
merasakan kehidupan sekitar Kemi, Rahmat menemukan hal-hal aneh. Kemi dan
orang-orang yang mengunjungi rumah Kemi tidak pernah sholat meskipun mereka
mengaku golongan penegak kebebasan Islam. Hal itu juga dirasakan oleh
masyarakat sekitar kostan Kemi. Mereka lebih sering berdiskusi hingga larut
malam tapi melupakan untuk sholat dan ibadah lainnya. Rahmat juga menemukan hal
aneh ketika berada di kampus Damai Sentosa kampus dimana Kemi kuliah. Dari
penampilan karyawannya yang sangat mencolok, administrasi yang sangat mudah
namun terdapat paradoks di tempat itu yaitu fasilitas kuliah-kuliahnya sangat
bagus untuk melakukan aktivitas perkuliahan. Tempat umum yang bersih,
perpustakaan yang sangat lengkap memudahkan untuk mahasiwanya mengembangakan
diri yang sangat berbanding terbalik dengan segala kemudahan administrasinya
itu. Biasanya jika semakin ribet administrasinya maka fasilitas akan semakin
baik. Rahmat juga mengetahui hubungi Kemi dengan beberapa perempuan yang bisa
dibilang dekat, tetapi tidak pacaran bahkan menikah. Salah satu perempuan itu
bernama Siti. Siti adalah gadis cantik anak Kyai yang memiliki pesantren di
Banten namun berpakaiann serba ketat, jeans, kaos dengan segala lekuk tubuhnya
kelihatan, jilbab juga sangat pendek hanya sempat menutupi rambut.
Rahmat kenal dengan Siti berbeda
dengan perempuan yang lain. Setelah lama berhubungan dengan Siti Rahmat
mengetahui bahwa Siti mengakui kalau kehidupannya yang sekarang ini adalah
sebuah pengalihan dari kekangan keluarganya yang memaksakan setiap kegiatan
Siti. Hubungan yang dibina Rahmat dan Siti itu lama kelamaan membuahkan simpati
dari Rahmat kepada Siti sebenarnya keduanya mengakui jika saling menyukai,
namun rasa itu tetap terus ditentang untuk tetap menjaga kebaikan antara
keduanya, apalagi Rahmat yang tidak mungkin melakukan hal-hal bodoh seperti
itu.
Setelah masuk hari pertama di
kampus, Rahmat langsung mengikuti perkuliahan yang diisi oleh rektor secara
langsung, Pak Malikan. Pak Malikan-rektor Universitas Damai Sentosa- adalah
seorang pakar pemikiran kontemporer yang mengaku adanya kebebasan beragama dan
mempercayai perbedaan akan tercipta jika terus ada toleransi. Beliau juga
sering muncul di televisi mengisi kajian atau perdebatan tentang ilmu
perbandingan lintas agama dan menganggap kebenaran itu milik semua agama. Pada
kuliah pertama Rahmat itu dia berhasil membuat pak Malikan tidak berkutik untuk
melanjutkan kuliahnya. Pendapat dan logika-logika yang diutarakan Pak Malikan
juga dipatahkan oleh Rahmat karena semua itu sudah di pelajarinya dulu ketika
dibina dipesantren baik melalui mempelajari buku-buku pemikiran kontemporer
maupun hasil diskusi dengan Kyai Rois.
Di hari yang lain juga Rahmat
berhasil membuat salah satu tokoh mereka kehilangan akal untuk menanggapi Kyai
kondang Jawa Barat Kyai Dulpikir di sebuah kuliah umum di Universitas Damai
sentosa. Hingga kyai akhirnya Kyai ini mengakui segala kesalahan berpikir dan
memutuskan untuk bertaubat dan berterima kasih kepada Rahmat yang telah
mengingatkannya sebelum akhirnya meninggal dunia pada saat itu juga.
Berita kematian Kyai dulpikir menjadi
bahan besar media untuk menggembor-gemborkannya sampai ke pelosok negeri.
Pemberitaan itu membuat Rahmat menjadi bahan omongan pada saat itu dan sempat
menjadi incaran komplotan liberal untuk di eksekusi. Akhirnya Rahmat
diselamatkan oleh kenalan Kyai Rois dengan dibawa ke sebuah kantor media massa
untuk mendapatkan perlindungan yang lebih. Di kantor itu Rahmat dilindungi dan
diberi fasilitas tempat tinggal, diperbolehkan juga untuk belajar menulis.
Di lain tempat ternyata terdapat
beberapa kejadian yakni komplotan Kemi yang mengusung kebebasan dan segala
pelatihan terkait, terbongkar yang sudah dihakimi. Namun sebelum hal itu Siti
sudah menjadi korban dianiaya dengan diracun yang menyerang organ-organ
pentingnya. Serta kemi yang dihajar habis-habisan sehingga otaknya mengalami
gangguan. Di situ terbukti bahwa kelompok itu hanya berorientasi kepada uang
dan kehidupan sendir tak seperti yang disebutkan di awal bahwa mereka
memperjuangkan intelektual dan pemikiran.
Sekian resensi buku Kemi 1 dari saya, jika ada kurangnya mohon maaf, jika ingin membaca detailnya yuk langsung saja baca bukunya.
Sekian resensi buku Kemi 1 dari saya, jika ada kurangnya mohon maaf, jika ingin membaca detailnya yuk langsung saja baca bukunya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar