Buku yang kali ini coba diresensikan adalah buku yang mungkin berbeda dengan buku-buku yag sebelumnya saya coba review. Pembelian buku ini kemarin tepat pada 15 Desember 2016 di Gramedia Bandung tepat setelalh UAS semester 5 ini berakhir. Alih-alih untuk memenuhi hasrat saya untuk mendapatkan hiburan yang saya coba manfaatkan agar lebih produktif. Hari pertama berlangsung pembacaan dengan cerita yang menarik lagi sarat dengan hikmah dalam buku tersebut, sampai akhir halaman 100-an lah dapet. Hari baca berikutnya berlangsung dan disambut dengan pengumuman Kinematika dan Dinamika eh, malah ada perasaan untuk mengikuti ujiannya dari sebelumnya semangat untuk berlibur eh malah ujian lagi, nasib, nasib... ya udahlah belajar lagi sip. kata imam Syafii "Barang siapa tidak sanggup untuk menanggung lelahnya belajar, maka akan menanggung pedihnya kebodohan." Yah dengan sebuah kalimat mutiara saya mulai membuka buku-buku catatan lagi. Sip deh muqodimahnya sudah cukup.
Mulai masuk isi buku ya siap-siap.
Cerita berawal dari seorang anak laki-laki bernama Santiago yang tak lain adalah seorang penggembala domba di salah satu di kota Andalusia. Yang unik dari buku ini daripada buku-buku yang lain adalah subjek yang ada tidak disebutkan dengan nama secara langsung namun hanya menyebutkan sebutan gelarnya saja. Sebagai contoh Santiago pada buku ini hanya disebutkan dari awal sampai akhir seagai seorang anak laki-laki. Atau mungkin ini adalah ciri khas dari penulis Paulo Coelha ? Saya juga tidak tahu menahu tentang semua ini karena jujur saya baru pertama kali membaca buku karangan Paulo Coelho.
Santiago adalah seorang anak gembala yang memiliki kemampuan baca tulis, kemampuan yang jarang dimiliki atau tidak pernah malahan bagi seorang penggembala. Sebenarnya hal ini bukanlah hal yang seharusnya terjadi. Pada awalnya orang tua Santiago menginginkannya untuk menjadi seorang Rahib di daerah tepat tinggalnya. Namun Santiago bersikeras untuk menjadi penggembala saja karena kesukaannya terhadap petualangan.
Pada suatu hari ketika sudah mulai menjalani pekerjaannya sebagai penggembala dia bermimpi menemukan harta karun di tempat yang jauh, suatu negeri yang memiliki piramida. Mimpi itu tidak terjadi satu kali namun terjadi sebanyak dua kali. Pada akhirnya dia memutuskan untuk menjadi penggembala dan melakukan petualangan ke luar daerahnya.
Dalam perjalanan itu sang anak laki-laki menjumpai berbagai macam orang pada tempat yang berbeda yang tujuan hanya satu yaitu untuk menemukan harta karun yang sudah diimpi-impikannya. Antara lain si anak muda bertemu dengan perempuan, lelaki tua yang mengaku raja Bernama Salem, penjual kristal yang berada di wilayah yang tidak strategis lagi, dan orang Inggris yang bertujuan untuk berguru kepada orang pintar yang disebutnya sebagai Al Kemis.
Pengembaraan itu melahirkan sebuah ilmu pengetahuan baru bagi si anak laki-laki. Berbagai hikmah dari pengembaraan yagn datang dari berbagai sumber pula. Dari orang lain ataupun hasil kontemplasinya sendiri dari pengalaman kehidupannya.
Seperti contoh sebauh hikmah yang ia dapatkan dari bertemu dengan Laki-laki Tua, "Jika bersungguh-sungguh, pastilah seluruh alam semesta akan membantu." "Harus peka terhadap pertanda-pertanda". Dari pesan yang ia dapatkan dari bapak tua itu ia menjadi tahu akan kehidupan. Lebih peka terhadap pertanda-pertanda yang ia lewati selama perjalanan, dan bahkan dia sampai memahami cara untuk berkomunikasi dengan makhluk selain manusia, yang disebutnya sebagai bahasa dunia. Karena ia menganggap bahwa semua makhluk hidup di dunia ini mengerti apa yang dia katakan namun dengan bahasa yang berbeda. Itulah pengetahuan yang menjadu hikmah untuknya dan membuatnya memiliki kelebihan untuk berkomunikasi.
Sebuah waktu yang membuatnya tak bisa melupakan perjalanan itu adalah ketika dia sampai sebuah Oasis dan bertemu dengan perempuan yang membuat hatinya lansung berdegub kencang. Sebenarnya memang pertemuan itu tidak sengaja yang dimulai dari sebuah pertanyaan encari keberadaan dari sang Al Kemis. Dari sana dia mendapatkan sebuah pelajaran berharga pula "Cinta tidak akan menghalangi seseorang untuk menghalangi takdirnya".
Sampai pada akhirnya si anak lelaki dipertemukan dengan sang Alkemis untuk mendapatkan takdirnya sebagai peraih harta karun. Dari sang Alkemis itu tentu ia mengambil banyak sekali pelajaran yang membuat hidup dan pemikirannya yang lebih berkembang.
Sampai pada akhirnya di bertemu dengan sebuah suku Arab badui yang sedang berperang dan sempat dijadikan sebagai tawanan. (pada bagian ini jujur saya mulai tak paham dari yang diceritakan buku ini) Dari pertemuan itu si anak diminta untuk menjadi angin. Anak itupun menawarkan untuk memperoleh waktu persiapan selama tiga hari dan akhirnya dan diberi waktu seesuai dengan permintaan. Satu, dua hari berlalu tanpa hasil yang bermakna yang ia lalui dengan berkomunikasi dengan Alam sekitar (ngga paham pokoknya :D). Akhir kata ia berubah menjadi angin, dan mendapatkan hartu karun yang teletak di tempat saat awal dia memulai perjalanan.
Sip sudah ya, kalau mau lebih lengkapnya dan tentunya akan lebih seru silakan baca saja sendiri bukunya. Mungkin yang saya tuliskan ini sangat tidak lengkap dan pastinya bahasanya kalah jauh dengan buku aslinya. Untuk Indonesia kemajuan literasi bangsaku hehe.
Sip sekian
Dalam perjalanan itu sang anak laki-laki menjumpai berbagai macam orang pada tempat yang berbeda yang tujuan hanya satu yaitu untuk menemukan harta karun yang sudah diimpi-impikannya. Antara lain si anak muda bertemu dengan perempuan, lelaki tua yang mengaku raja Bernama Salem, penjual kristal yang berada di wilayah yang tidak strategis lagi, dan orang Inggris yang bertujuan untuk berguru kepada orang pintar yang disebutnya sebagai Al Kemis.
Pengembaraan itu melahirkan sebuah ilmu pengetahuan baru bagi si anak laki-laki. Berbagai hikmah dari pengembaraan yagn datang dari berbagai sumber pula. Dari orang lain ataupun hasil kontemplasinya sendiri dari pengalaman kehidupannya.
Seperti contoh sebauh hikmah yang ia dapatkan dari bertemu dengan Laki-laki Tua, "Jika bersungguh-sungguh, pastilah seluruh alam semesta akan membantu." "Harus peka terhadap pertanda-pertanda". Dari pesan yang ia dapatkan dari bapak tua itu ia menjadi tahu akan kehidupan. Lebih peka terhadap pertanda-pertanda yang ia lewati selama perjalanan, dan bahkan dia sampai memahami cara untuk berkomunikasi dengan makhluk selain manusia, yang disebutnya sebagai bahasa dunia. Karena ia menganggap bahwa semua makhluk hidup di dunia ini mengerti apa yang dia katakan namun dengan bahasa yang berbeda. Itulah pengetahuan yang menjadu hikmah untuknya dan membuatnya memiliki kelebihan untuk berkomunikasi.
Sebuah waktu yang membuatnya tak bisa melupakan perjalanan itu adalah ketika dia sampai sebuah Oasis dan bertemu dengan perempuan yang membuat hatinya lansung berdegub kencang. Sebenarnya memang pertemuan itu tidak sengaja yang dimulai dari sebuah pertanyaan encari keberadaan dari sang Al Kemis. Dari sana dia mendapatkan sebuah pelajaran berharga pula "Cinta tidak akan menghalangi seseorang untuk menghalangi takdirnya".
Sampai pada akhirnya si anak lelaki dipertemukan dengan sang Alkemis untuk mendapatkan takdirnya sebagai peraih harta karun. Dari sang Alkemis itu tentu ia mengambil banyak sekali pelajaran yang membuat hidup dan pemikirannya yang lebih berkembang.
Sampai pada akhirnya di bertemu dengan sebuah suku Arab badui yang sedang berperang dan sempat dijadikan sebagai tawanan. (pada bagian ini jujur saya mulai tak paham dari yang diceritakan buku ini) Dari pertemuan itu si anak diminta untuk menjadi angin. Anak itupun menawarkan untuk memperoleh waktu persiapan selama tiga hari dan akhirnya dan diberi waktu seesuai dengan permintaan. Satu, dua hari berlalu tanpa hasil yang bermakna yang ia lalui dengan berkomunikasi dengan Alam sekitar (ngga paham pokoknya :D). Akhir kata ia berubah menjadi angin, dan mendapatkan hartu karun yang teletak di tempat saat awal dia memulai perjalanan.
Sip sudah ya, kalau mau lebih lengkapnya dan tentunya akan lebih seru silakan baca saja sendiri bukunya. Mungkin yang saya tuliskan ini sangat tidak lengkap dan pastinya bahasanya kalah jauh dengan buku aslinya. Untuk Indonesia kemajuan literasi bangsaku hehe.
Sip sekian

Tidak ada komentar:
Posting Komentar