Pastilah
kamu mengetahui bahwa kehidupan di sekeliling kita masih terdapat kesenjangan
sosial serta kesenjangan ekonomi yang tinggi.
Kesenjangan itu sudah mulai teratasi yang terbukti dari banyak teman-teman kita
dari daerah terpencil memiliki motivasi sampai bisa menjalani pendidikan bahkan
sampai tingkatan yang paling tinggi. Hal itu tak akan lepas dari adanya
dukungan dari pihak-pihak yang memiliki rasa untuk membantu sesama. Meskipun
hal itu sudah menjamur di kalangan masyarakat Indonesia, namun masih tetap saja
ada ketidak samaan antara aspek penting dalam kehidupan itu (baca : ekonomi,
sosial, dan pendidikan). Baik dari segi aspek kuantitas maupun kualitasnya masih
saja ada yang kurang.
Coba
kita soroti dulu aspek yang menjadi tulang punggung keseimbangan kehidupan,
aspek ekonomi. Masih saja kita melihat anak jalanan yang mungkin jika
bersekolah mungkin masih di bangku SD masih bermain di jalan untuk sekedar
memenuhi kantong plastik dengan uang-uang receh hasilnya mengamen, kakek-kakek
nenek-nenek yang sepertinya ‘sudah’ tak mampu untuk melanjutkan kehidupan
dengan mengiba mengharap belas kasihan orang lain di pojok-pojok gang. Masih
banyak permasalahan bangsa ini yang seharusnya diatasi. Aspek penting yang bisa
menjadi alasan utama kenapa kita bisa memperbaiki hidup dengan lebih baik serta
untuk mengatasi kerusakan aspek yang lain. Lalu apa solusinya ?
Salah
satu soslusi terjitu adalah pendidikan, aspek yang saya sebut sebagai tulang
punggung kemajuan peradaban dunia sekarang ini. Kemudahan-kemudahan hari ini
bisa didapat karena perkembangan yang sangat pesat hari ini.
Pernah
mendapat cerita dari seoarang sahabat yang begitu menginspirasi. Sahabat saya
ini berasal dari sebuah desa terpencil di Provinsi Lampung. Bayangkan ketika
sudah sampai di pinggir jalan angkutan umum kita perlu naik ojek dengan jalan
berlumpur selama 3-4 jam untuk menuju ke kampungnya. Dia tinggal bersama dengan
delapan orang adiknya, keadaan keluarganya pas-pasan. Keluarga sebanyak itu
menjadi saya kira cukup untuk menjadi pembakar semangatnya untuk mengembangkan
diri sejauh ini. Ketika dia ditanya “Kenapa kamu bersekolah jauh-jauh sampai di
sini ?” (kebetulan sahabat ini sedang menempuh pendidikan S1 di Bandung).
Jawabnya hanya satu kalimat sederhana namun mendalam “Hanya pendidikan yang bisa
membuat keluarga saya selamat dari kemiskinan”. Sangatlah masuk akal, karena
kita tahu dengan pendidikan taraf hidup seseorang itu akan meningkat seiring
dengan seberapa pandai ia memanfaatkannya walaupun ada aspek yang tak terduga
untuk memperoleh kesenangan di dunia.
Permasalahan
yang selanjutnya muncul adalah bagaimana bisa menempuh pendidikan di Indonesia
dengan segala biaya yang terasa mencekik nadi. Zaman modern ini memiliki
berbagai solusi untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Bisa dengan bekerja,
mencari sekolah gratis yang sudah marak dimana-mana, serta adanya biaya bantuan
dari pihak lain untuk pendidikan kita atau yang sering kita sebut dengan
beasiswa.
Beasiswa adalah suatu bentuk dana yang
digulirkan untuk membantu pelaksanaan program pendidikan dalam kalangan
pelajar. Banyak sekali lembaga yang mentyediakan beasiswa modern ini karena
kita tahu bahwa sangatlah penting untuk kemajuan sebuah bangsa. Tentunya lembaga-lembaga
ini memiliki suatu visi yang digunakan sebagai motif untuk memberikan beasiswa.
Diantaranya untuk merekrut Sumber Daya Manusia yang unggul, membantu orang yang
kurang mampu, meningkatkan suatu komunitas dan masih banyak lagi motif kenapa
suatu lembaga memberikan beasiswa kepada penerima beasiswa sesuai dengan
keperluannya.
Contoh
dari lembaga yang membrikan beasiswa biasanya bisa dari perorangan, kementerian,
yayasan, lembaga zakat dan bahkan bank konvensional dan lain-lain.
Jika
melihat dari sudut pandang syariat sebenarnya dalam mendapatkan suatu beasiswa
perlu adanya pengajuan sebelumnya yang digunakan untuk syarat pengajuan. Dalam Islam
meminta-minta itu dilarang sebgaimana hadits yang sudah ada berikut ini
Dari
Abdullah Ibnu Umar radiyallahu’anhu Nabi shalallahu ‘alayhi wassalam “ seorang yang terus menerus meminta-minta
kepada orang lain itu akan datang pada hari kiamat dlam kondisi tidak ada
secuuil daging pun di wajahnya.”(HR. Bukhori & muslim)
Jelas
tertera pada hadits tersebut tidaklah boleh seorang muslim meminta-meminta
kepada muslim yang lain.
Juga
hadits beirkut :
“barang
siaoa yang meminta bukan karena faktor kemiskinan itu seakan-akan memakan bara
api” (HR. Ahmad)
Dalam
hal ini perlu digaris bawahi yaitu tentang bagaimana seseorang memiliki
kemampuan untuk mencukupi kebutuhannya. Dan harus digaris bawahi juga bahwa
bekerja dengan orang lain (ijarah) itu berbeda dengan meminta (mas’alah). Meminta-menita
yang disebut dalam hadits di atas adalah su’al yaitu meminta-minta sedekah dari
orang lain.
Jadi
ketika ada kontrak yang menyebutkan behwa oenerima beasiswa ini adalah seorang
yang siap mengabdi pada lembaga yang sudah memberikan beasiswa maka tidak
mengapa untuk dilakukan.
Lembaga
yang memberikan beasiswa itu penting juga untuk dikaji karena pada lembaga itu
akan berpengaruh bantuan yang diberikan. Karena dalam agama yang syumul ini
tidak hanya dibahas tentang untuk apa harta yang dimiliki ini tetapi juga
darimana datangnya harta itu, yang kita meyakini bahwa aka nada pertanggung
jawaban atas apa yang dititipkan Alah kepada ini.
Pendapat
pertama ulama setuju dan mengatakan jika harta itu seluruhnya haram dan tidak
tercampur dengan yang halal maka hokum menggunakannya adalah haram. Pendapat kedua,
ketika harta itu tidak seluruhnya haram masih ada harta yang halal di dalamnya
maka di sini terdapat perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan bahwa harta halal
itu menjadi haram ketika sudah tercampur dengan harta yang haram. Namun selanjutnya
ada yang berpendapat tergantung dari kadarnya jika lebih banyak yang halal maka
harta itu menjadi halal dan sebliknya.
Nah
dengan demikian kita perlu selektif dalam memilih beasiswa yang sudah kita
dapat atau ang sedang kita usahakan karena akan mempengaruhi pertanggung
jawaban kita nanti di hadapan Allah azza wa jalla.
Allahu
‘alam bish shawwab
Referensi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar