Sabtu, 07 Januari 2017

Cermin Diri


Manusia adalah sesuatu yang tak akan pernah bisa melepaskan gelagatnya dari hubungan dengan orang lain. Meskipun itu bagian terkecil dari kebanyakan orang, setidaknya akan bertemu dengan orang lain dan membutuhkan satu sama lain. Karena itulah, para pakar dan kita setuju untuk sepakati bersama, manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang tak bisa lepas dari keberadaan manusia lain.


Tidak berlebihan memang jika manusia disebut sebagai makhluk yang memiliki ketergantungan oleh manusia lain, meskipun pasti tetap ada sisi indvidualistis. Tak usah jauh-jauh kita bayangkan, cukup kita amati kehidupan kita masing-masing. Coba ingat-ingat dan jawab pertanyaan-pertanyaan ini, siapakah yang pertama kali membantu Anda keluar dari rahim Ibu Anda ? setelah itu, siapakah yang akan membantu Anda untuk makan pertama kali ? mengganti popok Anda ketika 'ngompol' ? membantu Anda untuk berlatih berdiri sampai akhirnya bisa berjalan ?. Mungkin Anda sudah lupa, namun semua itulah yang menunjukkan bahwa Anda sangat membutuhkan bantuan orang lain selain dari kehendak Tuhan. Tentunya bahasan tentang hubungan manusia dengan orang lain ini tidak akan habis untuk dibahas dan akan menjadi suatu hal yang akan terus tumbuh dalam diri kita ketika melewati dunia kehidupan ini. Contohnya tak akan khatam untuk kita bicarakan. Walaupun ada ilmu untuk membahasnya tetapi masalah hubungan antar manusia ini akan terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman yang pesat ini.

Untuk memulai lebih lanjut izinkan saya terlebih dahulu menceritakan pengalaman pribadi saya. Kemarin, dengan rutinitas liburan yang seperti biasanya kami (mahasiswa alumni daerah) bergerak ke sekolah-sekolah untuk berbagi semangat kepada adik-adik kami yang kami harap bisa meneruskan semangat yang kami bawa ini. Kami kebetulan sedang mengunjungi ke suatu sekolah di bidang keagamaan di wilayah kabupaten kami atau sering disebut MAN (Madrasah Aliyah Negeri).  Sekolah ini adalah suatu sekolah yang cukup prestatif jika dibandingkan dengan SMA-SMA atau sederajat lainnya, serta memiliki guru-guru yang sangatlah bersemangat membantu siswanya. Saya kira itu bekal yang cukup, karena guru adalah garda terdepan pembentuk masa depan suatu bangsa. 

"Iya, dek ini lo anak-anak saya (siswa MAN) belum ada yang pernah masuk ke kampus kalian." Ujar pak Aad ketika sedang mengobrol santai dengan kami setelah usai sosialisasi kami itu. "Memang butuh perjuangan untuk masuk ke sana" Tambah Pak Aad. 

Dengan suka cita dan riuh ramah obrolan demi obrolan terus saja mengalir bak air yang mengalir pada aliran yang gemercik. Sampai suatu ketika saya mencoba untuk berpamitan dan sedikit mengevaluasi jalannya sosialisasi 'adik-adik' saya tadi dihadapan Pak Aad. "Oh iya pak, maaf tadi anaknya banyak yang kabur-kaburan. Mungkin karena tadi mereka bosan dengan penjelasan yang monoton dari adik-adik saya ini (sambil menunjuk ke arah adik tingkat yang bersosialisasi tadi) yang kurang bagus" Sergap saya dengan canda untuk melunakkan suasana. 

"Kalau begitu Mas Candra juga ngga bagus berarti, lha wong yang sosialisasi kalian lo" balas pak Aad dengan jawaban yang saya mengerti itu juga termasuk bahan penyegar suasana di antara kami.

Mendengar pernyataan pak Aad itu saya jadi teringat sebuah buku yang baru saja  saya baca Winning With People karangan John Maxwell. Dalam salah suatu sub babnya diterangkan tentang prinsip cermin yaitu suatu prinsip dalam hidup manusia yang mengharuskan untuk melihat diri sendiri ketika berhubungan dengan orang lain, instrospeksi diri. "Menghadapi orang sulit, selalu merupakan masalah, terutama jika orang sulit itu adalah Anda" kata John Maxwell.  Jelas sekali betapa pentingnya melihat dan mengevaluasi diri sendiri ketika sedang berhubungan dengan orang lain ini.

Namun kebanyakan orang tidak mengetahui prinsip ini dan sering 'kebobolan'. Seperti yang di sampaikan Pete Rose, "Kodrat tampaknya menganugerahi manusia dengan kemampuan untuk mengukur setiap orang di dunia ini kecuali diri mereka sendiri". Terlihat memang di kehidupan kita banyak sekali orang yang mencibir teman, kerabat, saudara dan pihak lain dan tak memperhatikan seperti apakah dia sebenarnya. 'Kodrat' kata Pete Rose. Hal itu memang sudah lazim di dalam diri setiap orang. Koreksi demi koreksi, prasangka demi prasangka, cibiran demi cibiran dengan mudahnya terlontar dari seseorang untuk memperbaiki seseorang yang ada di sekitarnya. Tak sedikit orang yang bahkan sampai sakit hati dari koreksi-koreksi yang disampaikannya itu. Banyak juga yang akan membalas dengan lebih kasar sampai-sampai akan memperlihatkan pertentangan fisik. Itulah kenyataan yang akan kita temui di masing-masing kita.

John Maxwell mengatakan bahwa hubungan antar manusia adalah salah faktor substansial untuk meraih kesuksesan selain dari keterampilan. Tepat jika kita tak dapak menjaga hubungan baik kita dengan orang lain agaknya kesuksesan akan kita raih dengan sangat berat. Dengan tidak melihat diri sendiri ketika berhubungan dengan orang lain maka secara tidak langsung kita telah menodai hubungan yang kita bangun. Kita setuju bahwa membangun hubungan itu akan lebih sulit daripada untuk merusaknya. Tentu akan mempengaruhi kita selanjutnya. Karena hal tersebut sudah menjadi pola hidup kita yang kita harus hindari.

Jadilah tak dapat dipungkiri lagi bahwa menjaga hubungan baik dengan orang lain akan menjadi bekal bagi kita untuk meraih kesuksesan. Salah satu kunci menjaga hubungan adalah melihat dalam diri sendiri. Manfaat yang diperoleh juga tak akan sepele karena hal itu banyak hal yang akan diperoleh setelahnya. Contoh yang mungkin bisa diambil pejaran adalah seorang pendiri Microsoft perusahaan soft ware yang sangat mudah digunakan. Bill Gates meraih kesuksesan dengan seorang teman yang setia menyokongnya Paul Vallen, yang menjadikan Microsoft seperti sekarang ini. 

Dalam winning with people John Maxwell menerangkan beberapa cara untuk menjaga hubungan dan terus bisa berkaca terhadap dirinya. Disebutnya dalam Tes Cermin. 

TES CERMIN
1. Orang pertama yang harus kenal adalah diri sendiri- kesadaran diri
2. Orang pertama yang menjadi sahabat terbaik saya adalah diri sendiri- citra diri
3. Orang pertama yang akan menimbulkan masalah adalah diri sendiri- Kejujuran pada diri sendiri
4. Orang pertama yang harus saya ubah adalah diri sendiri- perubahan diri
5. Orang pertama yang bisa membuat perbaedaan adalah diri sendiri- tanggung jawab pribadi

Dari semua yang dipaparkan di atas mungkin pertama kali Anda berkesimpulan bahwa "kenapa semua cara tes itu egoistis ?". Setelah pernyataan John Maxwell ini mungkin bisa menambah parameter kesimpulan Anda dan berubah pikiran. 

"Seorang yang angkuh bisa digambarkan bukan sebagai seseorang yang berpikir terlalu banyak tentang dirinya, melainkan sebagai seseorang yang berpikir terlalu sedikit tentang orang lain."
Jika Anda ingin meraih kesuksesan Anda coba perhatikan diri Anda lalu perhatikan lingkungan Anda. Atau jika Anda merasa ada yang salah dengan hidup Anda tak bijak jika Anda memperhatikan lingkungan Anda melainkan diri Andalah yang berhak untuk segera mendapat pembenaran. Buat kebermanfaatan sebesar mungkin maka Anda akan menjadi orang yang terbaik. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar